Perkembanga Teknologi Informasi dan Komunikasi - Kecerdasan Buatan Mengancam Aktifitas Kehumasan - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Senin, 08 April 2019

Perkembanga Teknologi Informasi dan Komunikasi - Kecerdasan Buatan Mengancam Aktifitas Kehumasan

Perkembanga Teknologi Informasi dan Komunikasi - Kecerdasan Buatan Mengancam Aktifitas Kehumasan


Perkembanga Teknologi Informasi dan Komunikasi | Kecerdasan Buatan Mengancam Aktifitas Kehumasan - Perkembangan teknologi masa sekarang memaksa dunia public relation (PR) ikut berbenah. Kehadiran artificial inteligent atau kecerdasan produksi bahkan mengancam kegiatan kehumasan andai tidak ditanggapi serius.

Penulis sekaligus Head of Corporate Communication Bio Farma N Nurlaela Arief membicarakan kondisi tersebut dalam kitab terbarunya "Public Relations in the Era of Artificial Intelligence (AI), Bagaimana Big Data & AI merevolusi dunia Public relations".

Dalam pengantarnya, dia menyinggung dunia public relation ialah sebuah disiplin untuk mengawal
reputasi yang dikaitkan dengan kepercayaan: insan membangun keyakinan dengan manusia, bukan dengan mesin atapun robot. Dengan pertumbuhan zaman yang semakin canggih, beberapa kegiatan PR akan dalam bahaya oleh AI.

"Oleh sebab itu, praktisi PR mesti mempunyai kemampuan-kemampuan khusus. Dengan AI, praktisi PR tidak melulu dapat memahami informasi yang telah terjadi, tetapi pun dapat menebak sebuah kejadian atau peristiwa yang bakal terjadi kedepannya," tulisnya dalam penjelasan resmi, Rabu (3/4/2019).

Melalui kitab ini, Nurlaela membicarakan tentang big data dan AI merevolusi kegiatan PR, apa saja transformasi PR dari insan ke mesin, strategi baru yang mesti disiapkan oleh seorang PR, sampai bagaimana taktik PR baru.

Dia memandang kepintaran buatan ialah perangkat empuk atau program komputer dengan mekanisme guna belajar, lantas pengetahuan tersebut dipakai untuk memungut keputusan dalam kondisi baru, laksana yang dilaksanakan oleh manusia.

Melalui kitab tersebut penulis mengucapkan hasil risetnya melewati bekerja sama dengan organisasi profesi Perhumas Indonesia dan Forum Humas BUMN. Riset ini bertujuan untuk memahami bagaimana teknologi big data dan AI merevolusi serta memungut alih beberapa besar kegiatan PR.

Hasil riset mengindikasikan bahwa kegiatan PR yang bakal tergantikan oleh pertumbuhan teknologi big data dan AI ialah antara lain: kliping berita, social listening-media monitoring, media relationship & stakeholder relationship, otomatisasi konten dan penyebaran melewati media sosial, penyebaran rilis.

Dengan situasi itu, otomatis sejumlah kegiatan mulai dikendalikan oleh robot atau sistem. Para pekerja PR pun dituntut guna belajar dari sekian banyak  kasus salah satunya dari permasalahan jual beli follower oleh influencer. Para pekerja PR juga diinginkan dapat mengekor setiap pertumbuhan informasi baik di media massa maupun media sosial sebagai unsur dari social listening.

Nurlaela Arief berjuang memudahkan pembaca dengan sekian banyak  contoh yang sempat menjadi perhatian masyarakat ataupun gejala yang sering terjadi namun tidak cukup dirasakan. Pengalamannya sebagai kepala hubungan masyarakat dalam perusahaan memudahkannya menyatakan seluk beluk dunia PR dan sekian banyak  tantangan menghadapi industri 4.0 atau bahkan 5.0.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar