Perkembangan Teknologi - Ikrar Trump Kalahkan China - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Rabu, 24 April 2019

Perkembangan Teknologi - Ikrar Trump Kalahkan China

Ikrar Trump Kalahkan China



Dalam upaya untuk mengalahkan China di bidang teknologi nirkabel generasi kelima, yang dikenal sebagai 5G, Presiden AS, Donald Trump, memberitahukan lelang frekuensi radio terbesar yang pernah terdapat dana dana sebesar $20 miliar untuk membina jaringan utama serat optik di area pedesaan.

“Kita tidak bisa biarkan negara beda manapun untuk mengungguli Amerika Serikat dalam persaingan di bidang industri yang sangat dominan di masa depan,” ujar Trump dari Ruangan Roosevelt di Gedung Putih, didampingi oleh kumpulan pemanjat menara telekomunikasi dan semua petani. “Pertarungan di bidang teknologi 5G ialah pertarungan yang mesti anda menangkan.”

Beberapa sekutu Trump telah mengupayakan untuk membujuknya guna secara efektif menasionalisasi teknologi ini sebagai masalah ketenteraman nasional.

Trump menyatakan ia sudah mempertimbangkan rencana seperti tersebut – yang dilawan oleh FCC dan lainnya – tetapi pada kesudahannya tidak lagi mengindikasikan dukungannya.

“Kami tidak hendak melakukannya. Hasilnya tidak bakal sebaik, dan secepat yang diharapkan,” ujar Trump.

“Gagasan mengenai jaringan 5G yang dirancang dan dioperasikan pemerintah di AS sama sekali tidak masuk akal. Pasar yang kompetitif, tidak terlampau dibebankan oleh ketentuan sudah menjadi ciri yang diterapkan oleh AS sekitar ini. Kebijakan ini telah sukses mencapai keberhasilan dalam permasalahan teknologi 4G dan bakal mendorong investasi dan inovasi di bidang teknologi 5G,” ujar Gabriel Brown, seorang analis utama pada perusahaan penelitian industri telekomunikasi yang berpusat di London, Heavy Reading, untuk VOA.

“Selain tersebut juga tidak masuk akal dalam kaitannya dengan kompetisi melawan China – ini ialah pasar yang bertolak belakang dengan fase pertumbuhan yang berbeda.”

Riley Walters, seorang analis kepandaian pada Asian Studies Center, Heritage Foundation, sepakat, dengan menuliskan “sektor swasta ialah cara yang paling tepat guna untuk mendistribusikan sekian banyak  kemampuan teknologi 5G, bahkan bilamana langkahnya tidak cocok dengan apa yang diingikan oleh semua penyokong tahapan nasionalisasi. Deregulasi mesti bisa menekan ongkos dari semua pengembang dalam negeri untuk menambah wawasan waktunya.”

Menghubungkan Amerika


Teknologi 5G – dengan kecepatannya yang menjangkau 100 kali lebih dikomparasikan kecepatan internet dengan teknologi 4G yang ada ketika ini – bakal memungkinkan timbulnya segala sesuatu dari apa yang dinamakan dengan kota-kota dan pertanian pintar sampai mobil swa-kemudi.

“Kami hendak warga Amerika menjadi yang kesatu guna menjadi yang kesatu menarik guna dari revolusi digital yang baru ini sementara pun melindungi semua inovator dan penduduk kita,” ujar Kepala FCC, Ajit Pai. “Kami tidak hendak warga pedesaan Amerika terabaikan.”

Dana Peluang Digitalisasi Kawasan Pedesaan yang menjangkau $20,7 juta yang bakal berasal dari sumber dana subsidi FCC yang ada, yang dimaksudkan guna menghubungkan 4 juta lokasi tinggal tangga penduduk Amerika dalam sepuluh tahun mendatang.

Peluncuran jaringan serat optik yang berbiaya tinggi di anggap sebagai sesuatu yang esensial guna menghubungkan jaringan komunikasi nirkabel pulang ke pusat jaringan internet.

“Intervensi di tingkat ini bakal mendorong investasi sektor swasta dan mempercepat cakupan di daerah-daerah yang sulit dicapai – guna ekonomi dan sosial dari cakupan di area pedesaan menciptakan campur tangan menjadi pantas untuk membantu supaya pasar bisa hidup,” ujar Brown.

“Menghimpun dana nasional untuk menyokong para inovator ini ialah gagasan yang hebat,” ujar Prakash Sangam, pendiri Tantra Analyst, yang tercebur dalam pemasaran dan pengembangan bisnis teknologi nirkabel. “Saya pun menyarankan pemerintah AS turn tangan dan memfasilitasi solusi konflik salah satu perusahaan teknologi Amerika sampai-sampai mereka dapat berkolaborasi dan secara efektif dapat berlomba dengan perusahaan-perusahaan yang disponsori oleh pemerintah asing.”


Kekhawatiran masalah keamanan


Satu kendala yang ada ialah langkanya perusahaan manufaktur AS dalam perangkat jaringan teknologi 5G, bidang dimana Huawei dan ZTE asal China terlihat mendominasi.

Tujuan-tujuan Trump guna industri teknologi berlawanan dengan posisi Federal Trade Commission berhubungan Qualcomm, produsen chip terbesar di dunia. FTC telah mengayunkan gugatan untuk perusahaan Amerika tersebut karena skema penentuan harganya dirasakan menghilangkan kesempatan persaingan, menurut keterangan dari analis teknologi, Patrick Moorhead, presiden dan analis utama di Moor Insights & Strategy.

“Qualcomm menjadi satu-satunya harapan untuk negara ini dalam kepemimpinan di bidang teknologi 5G dan 6G dan dengan FTC yang memberi batas gerak-gerik perusashaan itu, AS tidak pernah bakal menjadi pemimpin. China yang akan memungut alih kepemimpinan,” demikian prediksi Moorhead, seorang mantan eksekutif di bidang industri itu.

Seorang pejabat tinggi di Departemen Luar Negeri hari Rabu menuliskan kekhawatiran tentang masalah ketenteraman tentang cakupan Huawei dan ZTE pada perusahaan-perusahaan yang berkantor pusat di China, dan meyakinkan bahwa secara efektif mereka “berada di bawah perintah” Partai Komunis China.

“Penting sekali guna membedakan teknik sistem demokrasi Barat berlangsung dalam kaitannya dengan perusahaan-perusahaan swasta dan vendor-vendornya, dan bagaimana pemerintah China memantau perusahaan-perusahaannya,” ujar Duta Besar Robert Strayer, asisten wakil menteri untuk kepandaian siber dan komunikasi dan informasi internsional.

Strayer dan semua pejabat lainnya sudah memperingatkan bahwa Huawei dan ZTE dapat menyerahkan akses untuk badan intelijen China untuk jaringan komunikasi yang mempunyai sifat sensitif dan keterampilan untuk mengantarkan perintah guna mengganggu komunikasi.

Trump tidak menyebut perusahaan China dalam pidatonya hari Jumat, tetapi ia menuliskan jaringan 5G Amerika mesti “dilindungi dari musuh.”

Riley, dari Heritage Foundation, mengatakan untuk VOA bahwa AS “masih dapat memberi batas penyebarluasan impor yang dapat memunculkan risiko keamanan, tetapi akan sulit untuk perusahaan-perusahaan AS untuk berlomba dengan harga di pasar eksternal.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar