Perkembangan Teknologi Informasi | Perkembangan Teknologi Transportasi - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Selasa, 02 April 2019

Perkembangan Teknologi Informasi | Perkembangan Teknologi Transportasi

Perkembangan Teknologi Informasi - 
Pengaruh Teknologi dengan Angka Kecelakaan


Perkembangan Teknologi - Beberapa waktu yang lalu, Ditlantas Polda Metro Jaya baru saja merilis angka kecelakaan di Jadetabek yang meningkat pesat hingga mencapai 5.400 kejadian di tahun 2018 lalu. Angka kecelakaan tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang  hanya 5.140 kejadian saja.


Menurut Kasubdit Gakkum DItlantas Polda Metro Jaya  yakni, Kompol Muhammad Nasir, faktor penyebab kecelakaan lalu-lintas tersebut  memang mayoritas disebabkan oleh Human Error. Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pengemudi itu sendiri biasanya disebabkan oleh pelanggaran lalu lintas yang mungkin terkesan sepele, contohnya; tidak menggunakan helm, melawan arah, menerobos palang pintu kereta api, hingga berkendara pada kecepatan tinggi dan kondisi mabuk.

Sementara itu, hal berbeda juga dikemukakan oleh anggota dari Pantap (Panitia Tetap) Layak Jalan, Hartono Gani, yang menceritakan bahwa teknologi pada kendaraan itu sendiri juga bisa menjadi penyebab terbesar tingginya angka kecelakaan lalu lintas.

Hartono Gani mengatakan bahwa saat ini Indonesia masih sangat  tertinggal dari negara lain dalam hal teknologi keselamatan kendaraan yang ditetapkan. Dirinya juga menilai, masih banyak para pengendara yang kurang peduli dalam hal perkembangan teknologi keselamatan dari kendaraan itu sendiri.

"Saat ini Indonesia itu sangat jauh tertinggal dalam hal teknologi kendaraan.Padahal teknologi itu punya pengaruh yang besar dalam hal mencegah dan meminimalisir angka kecelakaan. Pabrikan kendaraan ini kan selalu terus berinovasi dalam hal teknologi keselamatan berkendara, sayangnya banyak pengendara disini dan juga pemerintah yang kurang peduli akan hal itu," ujar Hartono Gani.

" Contohnya yaa untuk kendaraan barang truk, ini masih sangat banyak pengusaha yang menggunakan truk lama yang masih mengadopsi sistem pengereman tromol. Padahal ini sangat membahayakan, apalagi saya kurang yakin bahwa pada saat  pemeriksaan laik jalan cara rem tersebut akan diperiksa dengan benar atau tidak. Tromol itu kan kalo mau ngecek ribet banget harus dibuka dulu segala macem, baru nanti kelihatan masih baik atau enggaknya. Sementara kalo sudah discbrake, ini kan gampang  ngeceknya. Tinggal lihat dari luar apakah kampas rem tersebut masih tebal atau tidak. Itu contoh sederhananya," jelas  Hartono Gani.

Menurutnya cara rem tersebut merupukan  unsur  krusial bagi sebuah kendaraan, terutama kendaraan barang seperti truk. Jika cara tersebut  tidak diperiksa dengan benar, tidak mengherankan kalau banyak kendaraan berat yang mengalami rem blong.

Kecuali hal yang disebutkan di atas, pemerintah dinilai kurang tegas dalam hal penertiban kendaraan barang yang mengangkut barang melebihi batas beban maksimum. Dirinya menilai, kendaraan yang memiliki  beban melebih batas maksimum tentu akan sangat berpengaruh pada kurangnya kekuatan cengkram dan jarak pengereman kendaraan tersebut.

Hartono Gani juga menyarankan agar pemerintah, kepolisian dan Dishub lebih tegas lagi dalam hal penertiban pelanggaran-pelanggaran batas beban maksimum tersebut. Dirinya juga menambahkan bahwa para stakeholder tersebut termasuk pemilik kendaraan berat atau logistik haruslah melek terhadap perkembangan teknologi kendaraan.


Dengan kendaraan yang terus ikut  berkembang bersama teknologi terbaru tentunya akan lebih meminimalisir tingginya angka kecelakaan lalu lintas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar