Perkembangan Teknologi - Langkah Jokowi dan Prabowo dalam Industri 4.0 yang Ciptakan Pengangguran - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Jumat, 12 April 2019

Perkembangan Teknologi - Langkah Jokowi dan Prabowo dalam Industri 4.0 yang Ciptakan Pengangguran

 Langkah Jokowi dan Prabowo dalam 
Industri 4.0 yang Ciptakan Pengangguran



Revolusi industri 4.0 menjadi isu yang penting dalam penambahan daya saing Indonesia. Era industri 4.0 menawarkan perkembangan teknologi yang maju pesat, tetapi sayangnya pun menggantikan peran tenaga kerja insan dengan mesin. Padahal, lapangan kerja tetap diperlukan untuk dapat tetap menyerap tenaga kerja.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai persoalan ini mesti menjadi ulasan dalam debat calon presiden dan calon wakil presiden putaran kelima pada 13 April 2019. Kedua pasangan calon (paslon) mesti dapat menawarkan penyelesaian hadirnya industri 4.0.

"Yang terus dibicarakan kedua capres masalah industri 4.0, tersebut memang untuk menambah daya saing. Tapi bagaimana dapat mengoptimalkan kepandaian bersangkutan industri 4.0 agar tetap dapat menyerap tenaga kerja," katanya diskusi ekonomi di Hongkong Cafe, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Dia menjelaskan, tren sejumlah tahun terakhir mengindikasikan jumlah tenaga kerja di sektor industri manufaktur terus merasakan penurunan. Kata dia, ketika ini lebih tidak sedikit tenaga kerja yang masuk ke sektor kegiatan informal, sementara di sektor formal merasakan penurunan.

"Dari sisi tenaga kerja, tersebut sebagian besar di sektor formal. Jadi bila mengalami penurun share-nya dari segi penyerapan tenaga kerja, berarti yang turun ialah penciptaan tenaga kerja formal, sebenarnya yang diinginkan (berkurang) dari informal," ujarnya.

Di sisi lain, adanya gejala tingginya pengangguran didominasi tingkat edukasi tinggi yaitu setara sarjana. Oleh karena itu, persoalan tenaga kerja di era industri 4.0 ini mesti di Jawa oleh setiap paslon.

"Jadi bagaimana dapat menjawab kendala ini. Karena bila tidak hati-hati ini bakal terus mengurangi penyerapan (tenaga kerja) industri manufaktur dan tidak menjawab keperluan penciptaan lapangan kerja guna tenaga kerja pengangguran yang ketika ini bertambah di level edukasi yang tinggi," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar