Perkembangan Teknologi CCTV - Canggih, Electronic Traffic Law Enforcement Mulai Diberlakukan - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Senin, 13 Mei 2019

Perkembangan Teknologi CCTV - Canggih, Electronic Traffic Law Enforcement Mulai Diberlakukan

Canggih, Electronic Traffic Law Enforcement Mulai Diberlakukan


Hasil gambar untuk himbauan tilang elektronik


Perkembangan Teknologi CCTV - Bagi semua pengendara motor atau mobil patut menaati peraturan, rambu-rambu kemudian lintas di Jakarta. Sebab, jajaran Ditlantas Polda Metro Jaya sudah memasang kamera CCTV pada sejumlah titik. Sehingga untuk pengendara yang melanggar bakal terekam oleh kamera CCTV guna diproses tilang.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Polisi Yusuf mengatakan, sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) yang mulai diuji jajaki pada mula Oktober tahun kemudian sangat dominan  positif.

Berdasarkan data pelanggaran kemudian lintas di tempat yang terpasang sistem ETLE, secara berangsur-angsur merasakan penurunan sampai 44,2 persen sekitar 4 bulan masa uji coba. "Tercatat di Jakarta telah dilaksanakan sejumlah 6.125.726 penindakan pelanggaran, yang dengan kata lain dalam sehari rata-rata sudah terjadi selama 2.800 penindakan pelanggaran kemudian lintas," kata Yusuf.

12 kamera ekstra yang dipasang untuk menunjang program E-TLE ini ialah kamera modern yang nantinya dapat merekam pengendara yang kecepatannya berlebih, pengendara yang tidak memakai sabuk pengaman, serta pengendara yang hilang konsentrasi sebab memainkan telepon genggam.

Sehingga, kata dia, penindakan tidak melulu pada pengendara yang menerobos lampu merah dan melanggar marka jalan saja, laksana yang dilaksanakan kamera sekarang.
Namun demikian, pihaknya tak merinci tempat kamera bakal dipasang sebab bila dibeberkan semua pengendara melulu akan tertib di titik yang dipasang kamera saja.

Terdapat dua tipe kamera, yakni Kamera Check Point dan Speed Radar. Kamera Check Point adalahkamera otomatis yang bisa mendeteksi jenis pelanggaran aneh genap, tidak memakai sabuk pengaman, pemakaian ponsel genggam.

Sementara, Kamera Speed Radar adalahsensor yang berkoneksi dengan kamera Check Point guna mendeteksi kecepatan kendaraan yang melintas secara real time. Sehingga, secara otomatis dapat memberi sunyal tangkap layar untuk kendaraan yang melebihi batas.

Berdasarkan keterangan dari Yusuf, terdapat satu fitur beda yang telah digunakan sejak awal, yaitu Kamera ANPR (Automatic Number Plate Recognition). Kamera tersebut secara otomatis bisa mendeteksi jenis pelanggaran marka dan traffic light serta mendeteksi plat nomor kendaraan untuk lantas disinkronisasikan dengan database kendaraan.

"Penambahan kamera ini pun berkat pertolongan Pemprov DKI Jakarta yang menolong pengadaan kamera. Nantinya kami bakal bekerja sama dengan Dishub DKI Jakarta berhubungan pemasangan ekspansi E-TLE di area Sudirman-Thamrin," katanya.

Meski pemberlakukan E-TLE ini nyatanya baru dilaksanakan di area Sudirman dan Thamrin. Sebab, ketika ini, Ditlantas Polda Metro Jaya masih mengerjakan sosialisasi berhubungan penerapan aturan tersebtu.

Kasubdit Bingakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Muhammad Nasir membetulkan bahwa dua area tersebut yang merealisasikan e-Tilang secara efisien. ”Yang telah baru dua area tersebut,” terangnya Kamis (25/4/2019).

Mengenai penerapan aturan ini, Budiyanto selaku pengamat masalah transportasi mengatakan, penegakan hukum dengan sistem elektronik merupakan keperluan di era pertumbuhan teknologi.

Hal ini terangnya, diperlukan seiring dengan pertumbuhan digitalisasi di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan respons cepat dari aparat penegak hukum khususnya di bidang kemudian lintas dan angkutan Jalan.

”Sistem elektronik sebagai sarana penyokong penegakan hukum atau dalam istilah kerennya E-TLE (electronic traffic law enfforcement), terutama di bidang kemudian lintas dan angkutan jalan. Di samping adalahsuatu kebutuhan, hyga amanah undang-undang. Sekaligus pun untuk membalas dan menggali solusi terhadap gejala perkembangan pelanggaran kemudian lintas dan angkutan jalan yang relatif masih lumayan tinggi terutama di distrik Jakarta,” kata Budiyanto.

Menurutnya, penegakan hukum dengan cara-cara konvensional telah tidak efektif lagi. Karena memerlukan personel yang banyak, tidak cukup transparan, resisten terhadap penyalahgunaan wewenang, dan susah diakses oleh masyarakat.

Tilang secara elektronik yang dikembangkan di Ditlantas Polda Metro Jaya terangnya, lumayan efektif, transparan, dan gampang diakses. Hal itu dipercayai dapat mengurangi penyalahgunaan wewenang, atau terjadinya pungutan liat. ”Hasilnya valid dan maksimal serta bisa dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Namun, yang terpenting ialah pelanggar pun harus diserahkan ruang atau waktu guna memberi klarifikasi terhadap pelanggaran yang terekam kamera CCTV.

Budiyanto bercita-cita dengan e-Tilang dapat membuat kesadaran tertib selesai lintas lebih baik. Sehingga tercipta kebiasaan disiplin terhadap masyarakat.

Penegakan hukum dengan sistem elektronik terangnya, dapat dikembangkan lebih baik. Tidak hanya dari sisi pelanggaran kemudian lintas di masyarakat. Tapi pun tindakan kriminal lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar