Perkembangan Teknologi - Konsep "Internet of Things" - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Selasa, 07 Mei 2019

Perkembangan Teknologi - Konsep "Internet of Things"

Konsep "Internet of Things"



Konsep "Internet of Things" - Kevin Ashton, nama yang barangkali asing untuk kebanyakan orang. Dia ialah seorang Professor di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Salah satu pendiri “Automatic Identification Center” di MIT. Atau, ia lebih dikenal sebagai bapak pelopor “Internet of Things (IoT)". Dia bercita-cita untuk mewujudkan Internet of Things. Internet yang menghubungkan barang dengan barang. Pengumpulan data otomatis dan pemungutan keputusan kolaboratif. 

Dalam urusan ini, dengan menghilangkan intervensi manusia. Berkat upayanya, penerapan teknologi RFID sukses diterapkan dan konsep "Internet of Things" pun telah berakar di dalam hati masyarakat. Profesor Kevin Ashton bermunculan di Birmingham, Inggris, pada tahun 1968. Pada tahun 1995, ia berencana mengawali bisnis restoran saji mi dan bermaksud menjadikan mereknya sebagai "internet celebrity". Namun pada ketika itu, internet baru saja dimulai. Idenya terlampau mutakhir, diperbanyak orang di sekitarnya pun tidak punya duit untuk mengerjakan investasi dalam internet. Makanya, dia kesudahannya memilih guna bekerja di kantor.

Kevin Ashton kerja di P&G sebagai manager branding dan mempromosikan produk Olay. Suatu hari, ia mengejar lipstik berwarna cokelat di rak kosmetik kehabisan stok. Pengisian ulangnya tidak jarang kali terlambat. Jadi, dia menggali supplier-nya. Lalu, manager supplier-nya mengatakan, tidak sedikit persediaan di gudang mereka. 

Jika berpindah ke orang lain, barangkali mereka bakal memperkuat manajemen personalia untuk menambah efisiensi. Namun, Kevin Ashton memikirkan mengenai teknologi yang bisa melacak barang-barang. Mulai dari pergudangan, logistik, sampai ke rak kosmetik. Hal ini memungkinkan manajemen rantai pasokan yang lebih efisien. Dari situ, lahirlah istilah yang anda kenal hari ini, yaitu Internet of Things. IoT. 

Konsep Internet of Things sudah memanas sejumlah tahun ini. Dengan hadirnya teknologi 5G, memungkinkan IoT tidak saja impian. 

Populasi Internet yang semakin bertambah dan harga perlengkapan keras yang semakin murah ialah faktor utama pendorong IoT. Pada masa lalu, orang-orang hanya dapat menggunakan komputer guna mengakses Internet. Saat ini, ponsel cerdas, tablet, jam tangan pintar, dan TV semuanya bisa terhubung ke internet. 

Diperkirakan, pada tahun 2020, bakal ada 34 miliar perlengkapan yang terhubung ke internet di semua dunia. Setiap orang rata-rata mempunyai 4 perlengkapan keras.

Pemerintah dan usaha bisnis bakal menjadi pemakai utama Internet of Things. Dan perusahaan bakal menjadi investor utama dalam penyelesaian IoT. Diperkirakan, dari tahun 2015 sampai 2020, campuran investasi global IoT akan menjangkau 9 triliun dolar. Ini ialah persiapan menyambut kedatangan era Internet of Things.

Manufaktur industri dengan pengembalian investasi tertinggi di IoT sudah menghasilkan lebih dari 250 triliun robot industri. Tujuannya untuk menambah efisiensi buatan yang lebih otomatis. 

Di samping itu, semakin tidak sedikit pertanian tradisional memakai sensor mengoleksi data dan merealisasikan pertanian presisi. Atau, pelacak kebugaran yang memungkinkan dokter untuk mengawasi kondisi jasmani pasien dari jarak jauh. Atau, department store offline yang bisa melacak pelanggan menurut label pada produk dan secara akurat memberi diskon guna mereka.

Dari perspektif perencanaan pemerintah di tahun 2020, jumlah perlengkapan IoT yang dipakai di kota-kota akan menjangkau 6 miliar perangkat. Artinya, masing-masing sudut kota akan diisi dengan perlengkapan jaringan, yang bermanfaat untuk perencanaan kota, pengendalian polusi, sampai melawan kejahatan. Atau, memakai lebih tidak sedikit drones dan robot militer pertahanan negara yang lebih otomatis. Jumlah robot militer secara global akan menjangkau 1,4 juta pada tahun yang sama.

Dari segi konsumen, permintaan pasar lokasi tinggal pintar semakin meningkat, yang sebelumnya terlampau mahal, di mana harga produk-produk jaringan sejumlah kali lipat lebih mahal daripada produk-produk nonjaringan. Namun, kondisi ini mulai berubah pada tahun 2015, khususnya di sektor otomotif. 

Semakin tidak sedikit produsen mobil yang menghubungkan mobilnya ke jaringan untuk mendapat  semua jenis data yang didapatkan secara gratis, sekaligus memodernisasi teknologi masing-masing saat, laksana halnya ponsel. Tidak melulu untuk meningkatkan ketenteraman mobil, tetapi pun memperkuat jaringan penjualannya dan layanan setelah penjualan. Di masa depan, Internet of Things bakal mengarah pada peradaban teknologi kendaraan otonom yang lebih cepat.

Just like grandma says, pertumbuhan IoT tidak berlangsung mulus. Melainkan sudah menemui tidak sedikit rintangan. Misalnya, infrastruktur ketika ini tidak bisa menangani kemudian lintas data yang paling besar. Atau jaringan baru yang dapat menuntaskan masalah kemudian lintas masih terlampau rumit guna diterapkan. 

Masalah privasi dan ketenteraman yang tidak jarang kali menjadi kekhawatiran dan perhatian masing-masing pemakai. Jika mereka diserang oleh peretas, dampaknya terhadap pemerintah, perusahaan, maupun konsumen mungkin berdampak fatal. Walaupun besarnya hambatan-hambatan ini, permintaan pasar IoT terus meningkat. Sebab, penghasilan investasi dari IoT bakal berlipat ganda dalam satu dasawarsa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar