Perkembangan Teknologi | Perkembangan teknologi hijau di Indonesia - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Rabu, 07 Agustus 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan teknologi hijau di Indonesia



Energi dan keberlanjutan peradaban manusia lebih menghargai lingkungan
Perkembangan Teknologi | Tenaga perkataan dikaitkan dengan kehidupan alam semesta. Adalah dipercayai bahawa alam semesta di mana manusia dan banyak makhluk hidup lain hidup, sama ada di darat, laut atau udara, mengandungi banyak sumber tenaga.

Energi sendiri mempunyai makna gerak/berpikir/beraktivitas. Gerak tersebut kemudian menghasilkan sebuah produk yang menghiasi pertumbuhan peradaban insan di dunia. Memahami definisi gerak seringkali membawa manusia beranggapan untuk menyaksikan lingkungan di luar dirinya sedangkan manusia tersebut sering terlupa terhadap kekuatan yang abadi dalam dirinya di mana tubuh dan benak ini dapat bergerak/berfikir. Padahal dalam diri manusia dipercayai ada sumber energi yang maha dahsyat yang menciptakan manusia tersebut dapat bergerak, yaitu ruh/kehidupan yang dititipkan oleh Sang Pencipta untuk manusia dan makhluk hidup.

Pendalaman terhadap sumber gerak (energi) setidak-tidaknya dipecah ke dalam dua jenis sumber energi, yaitu sumber energi metafisika dan sumber energi fisika. Sumber energi metafisika adalahsumber energi yang ditopang oleh unsur-unsur di luar nalar insan (dalam urusan ini keimanan) sedangkan sumber energi fisika lebih adalahhasil dari suatu proses rasional insan terhadap pemanfaatan potensi sumber daya energi yang terdapat (baik yang terdapat di udara, darat maupun perairan/dasar laut).

Di mula dan akhir abad ke-21 ini, dunia semakin diwarnai bahkan dihantui oleh adanya ancaman berupa kelangkaan sumber energi. Ketergantungan hidup insan dengan sumber energi mengalami sekian banyak  perubahan. Di era pra sejarah, sumber-sumber energi tidak sedikit dimanfaatkan secara tradisional dengan memanfaatkan sekian banyak  jenis bebatuan maupun tumbuhan yang proses pemanfaatannya mempunyai sifat terbarukan (bisa di daur ulang).

Dalam doktrin kitab suci agama samawi, disebutkan sekian banyak  sumber energi yang dapat menghasilkan panas, api atau listrik laksana pemanfaatan buah dari Pohon Zaitun dan Arkan serta jenis-jenis tanaman dan batu-batuan yang terdapat di lingkungan selama di mana peradaban insan tersebut berada.

Pemanfaatan sumber energi yang tradisional ini lantas mengalami evolusi sejak diketemukan sumber energi uap dan pemanfaatan teknologi terapan yang membawa wajah dunia menjadi lebih revolusioner terhadap teknik pemanfaatan dan teknik pencarian sumber energi.

Pada masa-masa itu, proses penelusuran dan pemanfaatan lebih ingin untuk merombak lahan dan mengeksplorasi lahan yang dominan  terhadap ekuilibrium untuk mengerjakan proses daur ulang. Sehingga proses pemanfaatan sumber energi di era ini ingin tidak dapat terbaharui (unrenewable energy). Efek dari diketemukannya sumber energi ini membawa wajah dunia diisi dengan sekian banyak  inovasi produk yang ditunjukkan untuk menopang dan memanfaatkan sebesar-besarnya sumber energi yang tak terbarukan.

Hingga puncak dari penelusuran dan pemanfaatan sumber energi tak terbarukan ini ialah diketemukan sumber/ladang-ladang minyak di sekian banyak  belahan dunia yang mengakibatkan pula adanya ekspansi/invasi sekian banyak  kekuatan guna mendapatkan sumber energi tersebut. Di mula abad ke-20, para berpengalaman di bidang energi dunia mulai menebak bahwa sumber-sumber energi tak terbarukan ini akan merasakan stagnan dengan mempertimbangkan tidak saja hal ketersediaan bahan baku sumber energi yang semakin terbatas tetapi pula satu dengan menurunnya kwalitas dan daya topang alam (keseimbangan alam) serta proses penelusuran dan pengelolaan yang high cost dan high risk.

Sementara kekhawatiran itu berkembang, semua pemangku kepentingan di bidang energi ini tetap menggali sumber-sumber baru bahan baku energi dengan pola yang sama melulu produk mineralnya berbeda, antara beda batu bara. Dikabarkan, bahwa pemanfaatan sumber daya mineral non minyak, laksana batu bara ini bakal mengiringi pemanfaatan sumber bahan baku energi berupa minyak bumi yang sudah diproses sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan produk derivatif energi dengan sekian banyak  kwalitasnya. Situasi ini tentunya menciptakan miris tetapi dengan sekian banyak  pertimbangan situasional (konteks konvensional) kondisi ini dikabarkan bakal tetap berlangsung dekade-dekade ke depan.

Perkembangan itu tentunya, telah semakin membutuhkan solusi yang berkelanjutan supaya dunia dan kemajuan dunia tersebut sendiri tidak terganggu dampak adanya efek domino dari keterbatasan sumber energi tak terbarukan dan dengan membina infrastruktur serta pemanfaatan dan pengembangan serta pelestarian sumber energi yang berasal dari bahan baku nabati dan kelautan serta udara atau matahari yang kesemuanya digolongkan sebagai Renewable energy.

Pada proses ini, dunia seakan-akan mengerjakan upaya bareng untuk mengerjakan persiapan guna menghadapi iklim dunia yang merasakan perubahan (climate change) dengan sekian banyak  program dampak adanya pemanasan global. Penyebab utamanya ialah dari perilaku/cara insan di dalam mengelola sumber energi, terutama keberpihakan mereka pada eksplorasi sumber energi tak terbarukan (unrenewable source of energy explorationand exploitation).

Tercatat, sebanyak pembicaraan, perundingan dan kesepakatan internasional yang berhubungan erat dengan isu energi dikaitkan dengan keselamatan dunia merebak dan muncul. Perundingan itu dibarengi dengan perundingan isu-isu yang saling bersangkutan, baik isu yang mencantol ancaman dan kendala konvensional laksana perang dan konflik bersenjata maupun pun menyangkut isu-isu lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, arus migrasi insan dan perniagaan barang dan jasa.

Kesepakatan Konferensi Perubahan Iklim Paris yang dijangkau pada tanggal 12 Desember 2015 disambut secara gegap-gempita oleh semua pemimpin negara di dunia. Mereka menyebutnya sebagai kesepakatan bersejarah yang dibutuhkan untuk mengamankan bumi dari ancaman bencana evolusi iklim. Salah satu kesepakatan yang dirasakan paling urgen dan bersejarah ialah kesepakatan untuk mengawal ambang batas suhu bumi dibawah dua derajat Celcius dan berupaya menekan sampai 1.5 derajat Celcius di atas suhu bumi pada masa pra-Revolusi Industri.

Bila ditilik dari latar belakang timbulnya kesepakatan tersebut ialah bagaimana menyelamatkan insan yang sekarang jumlahnya menjangkau 7,53 miliar jiwa sedangkan daya topang alam yang semakin terbatas, maka dunia mesti mengerjakan sesuatu yang mengamankan peradaban manusia. Dalam situasi demikian, dunia semakin terbebani dan urusan ini kembali menimbulkan kesadaran kolektif untuk mengerjakan praktik-praktik yang menyokong terciptanya ekuilibrium alam dan sosial, sangat tidak turut menyerahkan dan bersikap dan berkontribusi guna meminimalisir ancaman terhadap kelestarian alam dan lingkungan yang akan dominan  pada keselamatan kemajuan manusia tersebut sendiri.

Cara beranggapan para pemangku kepentingan laksana ini yang dapat disebutkan sebagai pemikiran yang budiman dan mempunyai sifat holistik yang tidak melulu mementingkan segi komersialitas belaka yang di anggap akan dapat mengamankan dunia.

Indonesia sebagai negara yang terdiri dari sekian banyak  pulau dengan sekian banyak  jenis tumbuhan dan faunanya patut merasa berkepentingan besar dan menjadi pemain utama di dalam mengamankan dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar