Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Romawi Kuno - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Sabtu, 25 Mei 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Romawi Kuno

Gambar terkait
Parfume Non Alkohol



Mengatur Halalnya Parfume yang Digunakan

Perkembangan Teknologi | Kawasan Condet, pernah jaya sebagai wilayah perkebunan yang subur di unsur timur Jakarta. Kawasan tersebut berada segaris dengan anak sungai Ciliwung, yaitu Ciondet. Ondet, atau ondeh, atau ondeh-ondeh, ialah nama pohon semacam buni, yang buahnya biasa dimakan.

Sempat pula, Gubernur DKI Jakarta ketujuh periode 1966-1977, Ali Sadikin, menjadikan area Condet menjadi area cagar budaya, melewati Surat Keputusan (SK) Gubernur No D IV-1511/e/3/74 tanggal 30 April 1974.

Bang Ali, sebutan untuk Gubernur DKI Jakarta itu hendak mempertahankan aset budidaya pertanian di Jakarta Timur. Juga, kebiasaan masyarakat setempat yang pun merupakan kebiasaan yang berciri khas kehidupan masyarakat Betawi.

Salak Condet sempat jadi pengingat bakal kekhasan wilayah itu. Namun, salak Condet tak lagi tenar. Kekhasan kebiasaan Betawi di kawasan tersebut pun kian terkikis.

Kawasan tersebut kini tenar dengan julukan Kampung Arab. Salak Condet berangsur surut kesohorannya digantikan dengan parfum, yang tidak sedikit dijual penduduk keturunan Arab. Tak melulu parfum, obat herbal juga mereka jajakan.

Kebanyakan seluruh toko parfum yang terdapat di distrik ini memasarkan minyak wangi refill atau bibit minyak wangi. Bibit parfumnya didatangkan saudagar dari Arab dan Eropa, kemudian mereka ramu lagi guna menjadi aroma beragam. Meramu aroma adalahtradisi untuk orang Arab. Meracik sendiri parfum, bakal menjadi sebuah kepuasan tersendiri. Di tanah leluhur mereka. 

Bibit minyak wangi diramu sedemikian rupa sampai menimbulkan wewangian kuat. Tujuannya, supaya tahan terhadap iklim tropis. Bibit parfum Arab yang didapatkan jadi memiliki wewangian khas.

Rerata, penjaja parfum di Condet ialah keturunan Arab. Padahal, pada era 1970-an, Condet didominasi penduduk asli Betawi yang bermukim di wilayah itu. Sepuluh tahun lantas berkembang lah bisnis penempatan tenaga kerja Indonesia untuk area Timur Tengah di Condet. Seiring dengan itu, tidak sedikit orang Arab hadir ke Condet guna berdagang. Salah satunya berniaga parfum atau bibit minyak wangi.

Para penjaja melego parfum pada pembeli dengan ukuran mililiter. Seperti yang dijajakan Toko Evi Parfum.

Penjaga toko itu, Marwan, menyatakan di tempat tersebut menjual parfum dari sekian banyak  jenis dari Eropa dan Arab. Dari parfum itu ada yang bercampur bahan alkohol dan non-alkohol.

“Tergantung minat konsumen. Mau melakukan pembelian yang bercampur alkohol atau tidak,” papar Marwan untuk Validnews, Senin (20/5).

Dia menguraikan, untuk gabungan parfum beralkohol, maka pembeli membawa parfum lebih tidak sedikit campurannya dikomparasikan bibit parfum. Berbeda, dengan gabungan parfum non-alkohol. Lebih tidak sedikit biang dikomparasikan campurannya.

Marwan memaparkan, tidak sedikit pembeli parfum di toko itu, lebih suka parfum non-alkohol. Karena seringkali konsumen menggali parfum yang biasa digunakan untuk salat. Harga parfum ini pun beranekaragam. Mulai dari kisaran Rp50 ribu guna ukuran 50 mililiter. Perbandingannya, 2:1 atau 30 mililiter biang parfum dan 20 mililiter ialah campurannya.

Datangkan Puluhan Juta

Di tokonya, terdapat ribuan parfum non-alkohol dengan sekian banyak  macam jenis dan wewangian berbeda. Jika, dihitung, per bulan, penjualan parfum di toko itu dapat mendatangkan Rp70 juta untuk pemiliknya. Bahkan, omzet yang dikoleksi bertambah. Saat menjelang Lebaran dan menjelang Iduladha.

“Dua minggu sebelum Lebaran, konsumen yang melakukan pembelian barang bertambah. Omzet dapat naik dua kali,” tutur Marwan.

Per bulan, lanjut dia, sekira 700 liter parfum dari pelbagai jenis dibeli konsumen, baik pria maupun perempuan. Dari pelbagai parfum yang terdapat di toko itu, terdapat enam jenis parfum dengan bibit berasal dari Eropa paling tidak sedikit diminati pembeli. Dua jenis parfum dengan bibit dari Arab pun menambah susunan paling laku dibeli.

Pembeli di toko ini tak melulu dari Jakarta. Beberapa pelanggan dari luar Jakarta, pun merogoh kocek untuk melakukan pembelian parfum di lokasi itu.

Berdasarkan keterangan dari Anggota Komunitas Sunah, Afha Rahmansyah (33) saat didatangi Validnews, Rabu (22/5), tidak sedikit orang yang gunakan parfum non-alkohol sebab banyaknya narasi halal dan bebas dari alkohol.

“Ini tak sekadar melulu masalah penjualan produk. Parfum di-branding syari, tidak beralkohol, dan jelas target pemakainya,” papar Afha.

Dia menjelaskan, dalam Islam, parfum tidak haram. Tetapi, yang dipermasalahkan ialah campuran alkohol di dalamnya.

Dalil yang tidak jarang digunakan ialah Al Maidah ayat 90. Ada kata rijsun yang diartikan sebagai najis. Bahasa Arab alkohol ialah khomer, dan itu mempunyai sifat najis. Ini yang dipakai oleh ulama-ulama yang mengharamkan parfum alkohol.

“Alkohol tersebut secara zat mempunyai sifat najis, jadi kalau dibaur dalam alkohol jadinya kotor, najis jadinya haram,” tegas Afha.

Tapi ada sejumlah ulama lain berasumsi berbeda. Afha menjelaskan bahwa untuk ulama lain, kata rijsun dalam surat tadi tersebut bukan benda, lebih untuk perbuatan. Minum khamar dirasakan sebagai tindakan yang tidak baik, bukan bendanya. Jadi, khamar ialah perbuatan yang tidak dibolehkan. Tapi, bukan secara zat yang tidak tergolong haram.

Banyak ulama menyarankan supaya khamar dijauhi, dalam konteks pencegahan. Dalam Islam terdapat istilah syubhat, yang berarti tidak jelas, di tengah, antara halal dan haram.

“Beberapa ulama menuliskan lebih baik dihindari memakai parfum berisi alkohol,” ucap Afha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar