Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Ultrasonik - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Selasa, 28 Mei 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Ultrasonik


Hasil gambar untuk robot damkar pendeteksi api indonesia
Teknologi Pemadam Kebakaran Mampu Deteksi Sumber Api. (Istimewa).



Inovasi Robot Damkar Mampu Deteksi Sumber Api 

Perkembangan Teknologi | Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan penyelesaian untuk kebakaran yang terjadi di sejumlah tempat. 

Teknologi fire fighting atau lebih dikenal dengan pemadam kebakaran, mereka bikin untuk menolong situasi terpaksa kebakaran yang tidak jarang terjadi. Teknologi ini dilengkapi dengan enam kaki guna dapat bergerak lebih fleksibel.

Inovasi untuk mengerjakan riset teknologi tidak terlepas dari pekerjaan mahasiswa dalam mengikuti sekian banyak  jenis lomba bidang teknologi. Banyak salah satu mahasiswa Indonesia dapat membuat prototipe teknologi demi kepentingan umum. 


Seiring dengan pertumbuhan teknologi, kesebelasan pemadam kebakaran ketika ini belum mempunyai robot atau teknologi sejenis untuk menolong memadamkan titik api. Mereka melulu menggunakan mesin semprot air dari jarak yang lumayan jauh dari titik api. 

Kini, empat mahasiswa UGM menghadirkan teknologi pemadam kebakaran untuk menggali sumber api. Robot ini dipakai untuk mencapai area tersulit yang tidak dapat dilalui manusia. “Sekarang ini kan tidak sedikit kasus kebakaran gambut di hutan, menggali titik apinya kan mesti memakai satelit atau helikopter. 

Kalau saya, inginnya robot ini dapat dipakai untuk kebakaran di hutan,” kata Dani Setyawan, di antara pembuat robot. Selain guna kebakaran hutan, tujuan kemanusiaan pun dapat dilakukan. Salah satu misal yang dijelaskan ialah menyelamatkan seorang bayi, yang disimulasikan dengan boneka di dalam ruangan atau gedung. 


Saat mengerjakan penelitian, Dani dan rekan-rekannya menguras dana selama Rp60 juta. Mahalnya ongkos pembuatan robot sebab banyaknya servo kaki dan sensor api yang dibutuhkan. Setiap kaki robot terdiri atas tiga servo dan harga masing-masing servo selama Rp1,8 juta. 

“Untuk satu robot kira-kira Rp60 jutaan, yang makan ongkos terbesar untuk ongkos servo atau kaki-kakinya,” tambah Dani. Robot yang diberi nama Al Fatih ini memiliki pelbagai sensor guna mendeteksi situasi lingkungan. 

Sensor yang dipakai tidak melulu untuk menggali titik api, pun mencari jalan, mendeteksi penghalang, sampai mengidentifikasi adanya korban. Robot ini mempunyai kelebihan untuk mendeteksi api dengan tingkat keakuratan maksimal. 

Sensor api pun mampu meneliti perbedaan dari cahaya panas, sinar laser, dan panas api. Jenis sensor yang digunakan ialah sensor suhu api, ultra violet (UV), dan potret transistor. Masing-masing sensor memiliki faedah sama, yakni mendeteksi api. 


“Dari api kan hadir sinar violet, nah kita memakai sensor UV, kita pun menggunakan sensor suhu andai ada evolusi suhu, lebih dari 35 derajat (Celsius),” kata mahasiswa Teknik Mesin UGM itu. 

Kebanyakan robot pemadam melulu menggunakan sejumlah sensor didalamnya. Namun, Al Fatih mempunyai lebih dari 15 sensor, guna menegaskan di mana sumber api berasal. 

“Kondisi lingkungan kan kadang beda-beda, kita memakai tiga sensor guna meyakinkan apakah api ini terdapat atau tidak. Kalau tiga sensor ini semuanya ‘ya, terdapat api’ maka anda padamkan. Tapi kalau melulu satu sensor, anda belum tahu tersebut api atau bukan, barangkali saja sinar yang lewat,” tambah Dani. Di samping itu, mahasiswa UGM ini memakai 5 sensor ultrasonik dan 5 sensor infra merah. 

Keduanya di fungsikan guna mendeteksi adanya benda yang merintangi jalannya robot. Ada tidak banyak perbedaan faedah antara sensor ultrasonik dan inframerah. Sensor ultrasonik lebih mengarah kebenda keras, laksana tembok, kayu, dan besi, sementara sensor inframerah guna benda lunak, laksana boneka, spons, karet, bahkan makhluk hidup. 

Kemudian, guna meyakinkan terdapat nya korban dalam suatu kebakaran, semua mahasiswa menambahkan kamera di atasnya. Kamera ini dapat merekam area tempat kebakaran yang dilewati robot. Sebagian besar robot pemadam kebakaran mempunyai 4 kaki, walaupun ada pun yang memakai 6 kaki. 

Robot dengan jumlah kaki lebih sedikit seringkali kurang stabil ketika bergerak. “Kami gunakan 6 kaki tersebut lebih stabil, lebih mudah pun pemrogramannya. Biasanya bila cuma empat kaki hanya dapat maju, geser kanan, dan pemrogramannya lebih susah,” katanya. Keunggulan robot ini dibanding dengan robot pemadam kebakaran lainnya merupakangerakan kaki lebih stabil, kekuatan sensor dalam meneliti pa nas api, dan penyelamatan korban. Teknologi ini tidak mem butuhkan daya besar guna mengoperasikan seluruh sensor. 

Mereka melulu menggunakan baterai 2 cell dan 3 cell , dengan kapasitas 12 volt. Baterai 3 cell dipakai untuk menggerakkan kaki-kaki dan baterai 2 cell guna mengoperasikan sensor lainnya. Dalam mengerjakan perawatan, robot ini tidak memerlukan pengecekan masing-masing saat. 

Selama susunan sistem robot berlangsung normal, pemeriksaan  dapat dilaksanakan dengan program komputer yang telah di sediakan, melulu komponen keras yang mesti diperiksa secara manual. Robot ini mendapat apresiasi spektakuler dari dunia inter nasional, setelah mengekor kontes robot internasional di Amerika Serikat. 

Dani dan rekan-rekannya sukses mengharumkan nama Indonesia karena sukses menjadi juara. Teknologi pemadam kebakaran ini masih perlu pengembangan lebih lanjut supaya dapat dipakai oleh kesebelasan pemadam kebakaran. Peran serta pemerintah sangat diperlukan dalam mengembangkan teknologi ini, seiring dengan kompetisi teknologi dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar