Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi 5 Tahun Terakhir - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Senin, 10 Juni 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi 5 Tahun Terakhir

Hasil gambar untuk perang dagang as-china
Perang dagang AS-China


Perang Dagang AS-China Merusak Sistem Perdagangan Global

Perkembangan Teknologi | Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan penambahan tarif impor yang dilaksanakan Amerika Serikat terhadap China dan negara lainnya bisa merusak sistem perniagaan global. Perang dagang yang dinyalakan AS tersebut juga tidak bakal efektif menanggulangi defisit perniagaan bilateral yang dirasakan AS, dan justru dapat merusak ekonomi global dan negara tersebut.


NERACA

"Daripada memperluas hambatan tarif dan non-tarif, AS dan partner dagangnya mesti bekerja secara konstruktif untuk menanggulangi distorsi dalam sistem perdagangan," tegas Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam penjelasan resminya, akhir pekan lalu.

Lagarde menekankan pentingnya solusi perselisihan dagang antara AS dan China melewati perjanjian komprehensif yang memperkuat sistem perniagaan internasional. AS, menurut keterangan dari dia, malah akan menemukan keuntungan andai bekerja sama dengan partner internasional guna memperkuat sistem perniagaan multilateral menurut aturan.


"Agar ekonomi global bermanfaat dengan baik, ia mesti bisa mengandalkan sistem perniagaan internasional berbasis aturan yang lebih terbuka, lebih stabil, dan lebih transparan. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, tidak terdapat yang memenangkan perang dagang," ujarnya.

IMF sebelumnya memperkirakan perang dagang yang berlarut-larut antara AS dan China bisa memangkas ekonomi global sebesar 0,5% pada tahun depan. Kendati demikan, IMF tak menyaksikan potensi penurunan ekonomi (resesi) global dampak perang dagang.


Lembaga finansial internasional tersebut memproyeksi ekonomi global tahun depan bakal berada di kisaran 3,6%. Namun, prospek ini rentan dampak perang dagang perdagangan, ketidakpastian keluarnya Inggris dari Uni Eropa, serta pemulihan yang tidak tentu di sejumlah negara yang merasakan tekanan ekonomi laksana Argentina dan Turki.

Di samping itu, IMF pun memberikan peringatan berhubungan kehadiran perusahaan teknologi keuangan (fintech) yang bisa sistem finansial global. “Disrupsi besar terhadap lanskap keuangan bisa jadi besar datang dari perusahaan teknologi besar, yang akan memakai basis pelanggan mereka dan duit yang besar guna menawarkan produk finansial, yang didasarkan pada big data dan kecerdasan produksi (Artificial Intelligence-AI)," ujar Lagarde dalam pertemuan G-20 laksana dikutip Reuters di Jepang, Sabtu (8/6).

Dia mengakui, inovasi teknologi ketika ini dapat membantu memperbarui sistem finansial global. Namun, di sisi lain, urusan yang sama pun dapat menciptakan sistem finansial menjadi rentan sebab sistem pembayaran serta setelmen sedang di bawah sejumlah perusahaan teknologi besar.

Berdasarkan keterangan dari Lagarde, urusan itu membuka kendala sistemik terhadap stabilitas dan efisiensi keuangan. China menjadi salah satu misal nyata berhubungan kehadiran fintech. Menurutnya, dalam lima tahun terakhir pertumbuhan teknologi di China paling sukses, serta memungkinkan jutaan orang mendapatkan guna dari produk keuangan dan pembuatan pekerjaan berbobot | berbobot | berkualitas tinggi.

"Namun urusan itu juga menciptakan dua perusahaan menjadi pengontrol lebih dari 90 persen pasar pembayaran mobile," ujarnya. Namun dia tak melafalkan nama dua perusahaan yang dimaksud Lagarde. Tapi, WeChat dan AliPay ketika ini adalahdua layanan provider pembayaran yang dipakai secara luas di China.

Lapangan Kerja di AS

Sementara itu, pembuatan lapangan kerja di Amerika Serikat (AS) diduga tetap tumbuh powerful pada Mei, di tengah memanasnya perang dagang antara AS dan China.

Dengan latar belakang tensi perang dagang yang meningkat, laporan ketenagakerjaan yang diluncurkan Departemen Tenaga Kerja pada Jumat (7/6) akan menolong mengembalikan asa pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) bakal memangkas suku bunga tahun ini.

Berdasarkan keterangan dari Ketua The Fed Jerome Powell, pekan lalu, bank sentral bakal terus mengawasi ketegangan perniagaan pada ekonomi dan beraksi sesuai untuk menjaga ekspansi.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump pada Mei menambah tarif pada dagangan asal China senilai US$200 miliar menjadi 25%. Aksi ini menyebabkan balasan dari China. Trump pun mengatakan akan mengenakan tarif pada seluruh barang asal Meksiko lantaran negara itu tak menolong membendung gelombang imigran yang melintas kedua negara.

Negosiasi antara Meksiko dengan AS tengah dilangsungkan demi menangkal pengenaan tarif sebesar 5 % yang dibuka pada 10 Juni.

Berdasarkan survei Reuters pada sejumlah ekonom, lapangan kerja di luar pertanian bertambah 185 ribu pada bulan lalu, sesudah melonjak 263 ribu lapangan kerja pada April. Jumlah ini lebih tinggi dari keperluan lapangan kerja guna mengimbangi perkembangan populasi umur kerja yang menjangkau 100 ribu per bulan.

Pertumbuhan upah bulanan di AS diduga meningkat lebih tinggi pada Mei, dengan perkiraan penghasilan per jam bertambah 0,3%, naik dari perkembangan pada April sebesar 0,2%. Upah diduga naik 3,2% secara tahunan.

Sementara perkembangan upah yang stabil akan menyokong optimisme The Fed bahwa inflasi bakal kembali ke target 2% bank sentral tersebut. "Dengan sengketa perniagaan yang sedang berlangsung, kekhawatiran memburuknya keyakinan rumah tangga dan bisnis akan mengakibatkan orang-orang 'menutup dompet' mereka, menyerahkan The Fed dalil untuk mengerjakan pengurangan suku bunga preemptive," kata Beth Ann Bovion, Kepala Ekonom S&P Global Peringkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar