Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Aplikasi Mobile - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Rabu, 12 Juni 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Aplikasi Mobile

Aplikasi pemantau kesehatan. (Ilustrasi)



Dampak Negatif Aplikasi Pemantau Kesehatan

Perkembangan Teknologi | Alat pemantau kesehatan tidak jarang digunakan banyak orang belakangan ini. Bagi memanfaatkan fungsinya, orang tidak membutuhkan alat khusus. Mereka bermukim mengunduh software pemantauan kesehatan di ponsel pintarnya.


Alat pelacak kesehatan ini tidak melulu memantau kegiatan fisik yang dilaksanakan pemakainya. Pengaturan makan, istirahat, sampai waktu istirahat pun dapat dipantau dengan mudah. Lantas, hasil dari campuran itu seluruh dapat dijadikan rujukan kebugaran untuk pemakainya.

Tapi, di balik iming-iming guna untuk mengawasi kebugaran tubuh, alat itu mempunyai sisi gelap yang butuh diperhatikan. Pemantau kesehatan ini dapat mendorong orang terobsesi dengan kesehatan sampai menimbulkan kecemasan.

Psikolog yang berkantor di Texas, Amerika Serikat, Dr George Zgourides mengatakan, data tidak terbatas ini bisa berkontribusi pada kebiasaan kecemasan kesehatan. Alat tolong itu menciptakan orang-orang terlalu cemas tentang masalah kesehatan, sampai-sampai dapat mengganggu kesehatan mental, pekerjaan, dan hubungan.


"Sekarang Anda bisa menghitung masing-masing kalori dan setiap tahapan yang kita ambil, orang-orang yang barangkali mempunyai kecenderungan obsesi atau konsentrasi pada angka, ini memberi perilaku santap dengan teknik yang tidak tidak jarang kali membantu," kata dokter penyembuhan keluarga dan penulis kitab Stop Stop Worrying About Your Health, dilansir dari Time, Ahad (9/6).

Peneliti di Duke University di North Carolina pada tahun 2015 mengejar pelacak kegiatan dapat mengurangi kesenangan apa pun saat terus hitung. Bahkan, memakai alat pelacak ini menciptakan orang mengerjakan lebih sedikit kegiatan ketika perangkat tidak aktif.

Sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Eating Behaviors mengejar hubungan antara pemakaian penghitungan kalori atau perangkat pelacak kebugaran dan fenomena gangguan santap di kalangan mahasiswa. Sementara itu, survei tahun 2016 mengenai pemakai Fitbit pada perempuan menemukan, nyaris 60 persen narasumber merasa hari-hari mereka dikendalikan oleh perlengkapan dan 30 persen menuliskan gawao itu ialah musuh yang menciptakan mereka merasa bersalah.

Ketika pelacak ini meningkat fitur dan lebih canggih, desakan balik juga dirasakan untuk pemakainya baik di sisi kesehatan mental maupun privasi konsumen. Kondisi ini mendorong perusahaan memanfaatkannya dengan menawarkan produk yang memberikan pilihan untuk menyerahkan data lebih baik.

Salah satu software pemantau ialah Shapa. Skala yang diciptakan oleh startup ini mengupayakan untuk tidak menunjukan berat badan seseorang, tetapi ia mengoleksi data penimbangan dalam tiga pekan dan memakai sistem kode warna.

Kode warna itu menjadi tanda guna memberi tahu pemakai andai mereka meningkat berat badan, mempertahankan mutu tetap, atau turun. Co-founder dan ilmuwan perilaku Dan Ariely mengatakan, idenya ialah mengalihkan konsentrasi dari perubahan mutu tambahan dan mengarah ke pola yang lebih bermakna.

“Berat badan saya dapat naik dan turun, tergantung pada ketika saya pergi ke kamar mandi dan berapa banyak garam yang saya asup dan kapan saya pipis terakhir dan berapa banyak saya merasakan dehidrasi,” kata Ariely

Bagi Ariely, memberi orang informasi tentang mutu tubuh yang naik dan turun dalam rentang itu akan membingungkan dan menurunkan motivasi. Cara menunjukkan angka, tidak membantu mengetahui hubungan antara karena dan akibat.

Sementara itu, software pemantau makanan YouAte mengerjakan hal serupa untuk diet. Seperti banyak software nutrisi, YouAte memungkinkan pemakai untuk menulis makanan dan camilan.

Alih-alih menghitung jumlah kalori, software meminta pemakai guna mengategorikan opsi makanan mereka sebagai "di jalur" atau "di luar jalur". Pilihan tersebut membantu pemakai merasa bahwa idealnya mereka butuh menumbuhkan pola santap yang tepat.


"Dalam masing-masing keadaan, saya bakal merekomendasikan penghitungan kalori. Pada akhirnya, tujuannya ialah untuk tidak butuh menghitung kalori sama sekali, tetapi untuk dapat mengekor isyarat internal guna bimbingan," kata spesialis diet tercatat dan gangguan santap yang tercatat di Texas, Amerika Serikat, Jessica Setnick.

Setnick mengatakan, gangguan santap sudah terdapat jauh sebelum Fitbits dan software diet berkembang. Namun, pertumbuhan teknologi itu memungkinkan bisa memperburuk masalah mendasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar