Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Berdampak Buruk Terhadap Kehidupan Sosial Remaja Kontra - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Jumat, 14 Juni 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Berdampak Buruk Terhadap Kehidupan Sosial Remaja Kontra

Kekuatan Baru Ciptakan Public Space dalam Demokratisasi


Hasil gambar untuk public space democration
Foto : Public Space Democration

Perkembangan TeknologiPerkembangan teknologi informasi dari tiga dasawarsa yang lalu sampai hari ini telah menyerahkan optimisme baru dan sudah memberikan sekian banyak  kemudahan dalam sekian banyak  dimensi kehidupan, tergolong kehidupan berdemokrasi. Teknologi informasi yang berkembang ketika ini diinginkan menjadi kekuatan baru dalam membuat iklim demokrasi yang lebih baik serta menjadi ruang publik (public space) yang ideal dalam kerangka demokratisasi.


Perkembangan teknologi informasi, terutama dunia cyber-technology menyerahkan ruang baru untuk kehidupan demokrasi bangsa. Optimisme terbuat di masa sekarang, di mana masyarakat dapat mengakses dengan gampang dan pun mampu membuat komunikasi global yang di dalamnya bisa bertemu sekian banyak  pihak guna saling berkomunikasi satu dengan yang beda secara bebas, terutama pihak pemerintah dan penduduk sipil.

Internet muncul mengoyak pelbagai tatanan kehidupan masyarakat, tergolong media baik secara jurnalistik maupun bisnis. Kita tiba-tiba dihadapkan pada perkembangan pemakai internet dan pertumbuhan konten yang demikian masif, bahkan konten bohong (hoax) seolah tak tertahan di era digital ketika ini. Maraknya kasus-kasus penistaan serta ujaran kebencian dan fitnah yang berkembang semakin menambah kisah panjang tentang akibat negatif cyber technology untuk para pemakai media sosial dan ruang publik yang tanpa batas, sampai akhirnya mengarah pada pelanggaran UU ITE. 


Cyber technology pun menambah barisan panjang masalah yang mencantol dengan penyebaran ideologi, di mana tidak sedikit ditemukan laman-laman internet yang menyebarkan ideologi yang ingin radikal. Dengan begitu euforia kemerdekaan berekspresi di dunia digital dihadapkan pada ketegangan antara hak asasi menyampaikan pendapat di satu pihak dan hal keamanan serta kriminalisasi tuduhan perusakan nama baik di pihak lain, atau problem beda yang mencantol pelanggaran hukum berbasis internet atau melewati internet. 


Industri media sontak pun dihadapkan pada masalah transformasi digital. Pertumbuhan pemakai internet berimplikasi pada penurunan pembaca media cetak dan bergesernya aras bisnis ke dunia maya. Tetapi, dengan adanya pertumbuhan cyber technology pemerintah dengan gampang dapat mengkomunikasikan serta mensosialisasikan sekian banyak  wacana kepandaian sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Dalam wacana kepandaian politik, hadir optimisme bakal peran besar teknologi internet sebagai kekuatan baru yang dapat menciptakan iklim demokrasi yang lebih baik, terutama dalam pemberdayaan masyarakat sipil di dalamnya.

Internet dirasakan sebagai ruang yang dapat menyalurkan komunikasi yang berjangkauan luas, yang diinginkan dapat menjadi ruang publik yang ideal --public cyberspace. Tetapi, ketika ini public cyberspace sebagai "ruang" berlangsungnya komunikasi global menimbulkan sekian banyak  kontroversi, terutama menyangkut nilai-nilai etika, moral, dan politik praktis yang memunculkan ruang anti-demokrasi.


Saat ini sedang berkembang, di mana public cyberspace dipakai sebagai ruang dan alat guna menguatkan dan mengkampanyekan visi-misi politik, politik adu domba, serta ruang guna mengkritisi pemerintahan. Salah satu yang sedang menjadi tren di dalamnya ialah menyebarkan hashtag-hashtag yang bertentangan seperti 2019GantiPresiden dan 2019TetapJokowi.

Cyberspace memang dapat menjadi ruang yang menjanjikan untuk membuat "kekuatan alternatif" yang paling dahsyat sebab ia dapat menyerahkan pengaruh pada masyarakat dalam skala nasional maupun global. Tetapi ada sekian banyak  persoalan fundamental di balik kekuatan besar ini, terutama persoalan yang mencantol aturan main (rule) dan etika.


Cyberspace memang bisa menjadi "kekuatan komunikasi" yang luar biasa. Tetapi, kekuatan komunikasi guna siapa? Dalam urusan ini ada sejumlah pandangan tentang aspek politik cyberspace. Ada yang menyaksikan cyberspace sebagai "ruang" yang tak lebih dari lokasi institusi (seperti negara) memata-matai masyarakatnya. Ada yang menyaksikan sebagai perpanjangan tangan dari kapitalisme lewat proses komodifikasi ruang publik. Ada yang menyaksikan sebagai ruang pembebasan dari tirani negara. Ada yang menyaksikan sebagai arena promosi, ruang adu domba, lokasi untuk menjatuhkan lawan dan mengkampanyekan kawan. Ada yang menyaksikan sebagai kekuatan baru civil society yang luar biasa.

Tetapi, terlepas dari pandangan politik di atas, yang paling jelas cyberspace telah mengembara ke dalam batas terjauh "ruang sosial", menginjak sudut-sudut terasing dari "ruang jiwa", menjelajah ke dalam sisi terdalam dari "ruang mental", sampai-sampai dalam suasana tertentu ia sudah menyusutkan beberapa dari ruang publik. Sekaligus, mengolah gaya dan pola hidup insan saat ini, dan yang sangat baru ialah cyberspace telah membuat ruang anti-demokrasi baru dalam sistem pemerintahan demokrasi.

Perlu diingat, meskipun cyberspace bisa menjadi "ruang publik global" (global public sphere), kompleksitas yang hadir dari ruang tersebut berdampak pada munculnya sekian banyak  problematika sosial, kultural, dan moral terutama mengenai permasalahan tapal-tapal batas untuk "kebebasan berekspresi" yang di dalamnya ingin mengarah pada "kebebasan ekstrem" dan "anarki".

Berdasarkan keterangan dari Howard Rheingold dalam bukunya Virtual Community: Finding Connection in a Computerized World, satu-satunya teknik untuk menghindari "kebebasan mutlak" dan "anarki" dalam cyberspace ialah dengan mengembangkan norma-norma, yang dapat menyerahkan masyarakat gagasan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan di dalamnya. Tetapi, pertanyaan mendasarnya: dapatkah dibuat "norma global" itu di dalam kompleksitas kepentingan, ideologi, budaya, dan keyakinan dari sekian banyak  lapisan masyarakat yang telah melalui batas-batas jangkauan kebiasaan manusia tersebut sendiri?

Dalam urusan ini, butuh kiranya kita guna bersikap moderat dalam menanggapi pertumbuhan cyberspace. Mengambil sikap yang arif untuk mengakomodasi sekian banyak  paradoks dan kontradiksi yang terjadi di dalamnya. Marilah kita memungut sisi-sisi yang baik dari teknologi sebagai suatu penemuan yang berharga untuk evolusi zaman, tetapi menampik dan memfilter sekian banyak  sisi gelap dari pertumbuhan teknologi itu baik dalam format "ideologi", "visi", "politik adu domba" serta barangkali saja dalam format "spiritualitas semu" di balik dunia cyberspace.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar