Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi CCTV - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Senin, 17 Juni 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi CCTV

Bagaimanakah Perkembangan JSC Setelah 4 Tahun Berjalan?



jakarta smart city | image 1
Jakarta Smart City Lounge di Gedung Balai Kota DKI Jakarta


Perkembangan Teknologi CCTV | Konsep smart city dipopulerkan oleh Sam Palmisano pada 2008 yang saat tersebut menjabat sebagai CEO IBM. Smart city ialah konsep tata kelola kota yang terintegrasi dengan sistem teknologi informasi dan komunikasi, demi menambah efisiensi operasional, membetulkan pelayanan pada warga, sampai meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Konsep tersebut lantas diinisiasi di Indonesia oleh Suhono S. Supangkat, Guru Besar dari Institut Teknologi Bandung. Ia mengaku ada tujuh komponen yang menyokong smart city, yaitu:

1.smart economy,
2.smart people,
3.smart governance,
4.smart government,
5.smart mobility,
6.smart environment, dan
7.smart living.

Memanfaatkan teknologi guna wujudkan data-driven policy

JSC mengategorikan Jakarta ketika ini sedang berada di etape transisi guna menjadi smart city yang ideal. Ibu kota Indonesia mempunyai karakter bertolak belakang dari kota warisan (legacy city) dengan populasi stabil dan infrastruktur matang, laksana London atau New York, ataupun dengan kota baru (new city) yang dikembangkan dengan perencanaan kompleks laksana Dubai.

Dengan karakter bertolak belakang ini, tidak seluruh solusi yang terdapat di luar negeri dapat diadopsi begitu saja ke Indonesia, terutama Jakarta. Butuh solusi-solusi lokal untuk menuntaskan masalah lokal. Itu sebabnya, JSC paling terbuka dengan sekian banyak  inovasi yang ditawarkan oleh sejumlah startup lokal.

Alex Siahaan, Kepala Satuan Pelaksana Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Jakarta Smart City, menilai yang sangat memahami keperluan Indonesia ketika ini ialah para pemain lokal itu.

Meski konsep smart city sendiri lekat dengan teknologi, tetapi sejatinya kehadiran teknologi bukanlah sebagai penyelesaian akhir dari sekian banyak  permasalahan. Teknologi hanyalah sarana yang dapat digunakan pemerintah guna menghimpun serta mengelola data, sehingga dapat menghasilkan keputusan secara tepat dan cepat.


Saat ini, JSC sudah menggunakan sejumlah teknologi untuk menolong pemerintah mengelola ibu kota. Salah satunya ialah memasang CCTV di lebih dari 7.600 titik di Jakarta. Selain dapat diakses secara online oleh siapa pun, CCTV pun membantu pemerintah dalam menyajikan data real-time arus kemudian lintas, parkir liar, sampai volume sampah di sungai-sungai.

Tersedia pun lebih dari 1.600 bank sampah di semua Jakarta untuk mengisi kapasitas limbah Jakarta yang masing-masing harinya dapat mencapai 7.200 ton. Kehadiran bank sampah ini pun salah satu format JSC dalam menyusun kedisiplinan warga guna memilah dan melemparkan sampah pada tempatnya.

Ada juga software Citizen Relationship Manager (CRM). Aplikasi tersebut menolong aparatur pemerintahan provinsi DKI Jakarta dalam menampung dan menindaklanjuti aduan warga.

Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemerintah Provinsi (Diskominfotik) DKI Jakarta sudah memperhitungkan dana APBD 2019 sebesar Rp10,98 miliar guna pengembangan software JSC, dan Rp76,25 miliar guna pengembangan infrastruktur. Sementara untuk riset dan pengembangan program JSC pun pun telah diperhitungkan sebesar Rp5,15 miliar.

Kolaborasi sekian banyak  pihak jadi kunci
Dalam pelaksanaannya, JSC kerap bekerjasama dengan sekian banyak  startup dan perusahaan sekian banyak  skala demi menghadirkan layanan yang solutif dan efisien. Beberapa di antaranya ialah Qlue, Trafi, Waze, dan Nodeflux.

Sebagai di antara startup yang sudah bekerja sama semenjak JSC dimulai, Qlue merasa inisiatif pemerintah menggandeng startup lokal dalam menanggulangi permasalahan di Jakarta merupakan tahapan yang bijak.

“Gagasan untuk bekerjasama dan menginisiasi Jakarta Smart City muncul di tahun 2014, sebenarnya kala tersebut konsep ini masih paling asing. Ide tersebut terbilang jenius, dan rasanya butuh segera ditiru oleh kota-kota beda di Indonesia”, jelas Rama Raditya, CEO dari Qlue
Ada sejumlah solusi dari Qlue yang dipakai JSC dalam mengelola kota Jakarta. Di antaranya meluangkan platform pengaduan masyarakat, manajemen tenaga kerja, sampai visualisasi data supaya lebih gampang ditindaklanjuti.

Hasilnya juga positif. Pada kuartal kesatu 2019, Qlue menyatakan telah menerima 33.000 aduan dari masyarakat Jakarta. Dari semua aduan itu, 90 persen langsung ditanggapi oleh pemerintah dalam waktu tidak cukup dari 24 jam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar