Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Contoh - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Selasa, 18 Juni 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Contoh

Revolusi Besar Mulai Melanda Bangsa Indonesia



Hasil gambar untuk industri 4..0


Perkembangan Teknologi Contoh | Ada evolusi besar, revolusi besar, yang dimulai dan akan menyerang bangsa kita, tetapi tidak sedikit dari kita yang mengabaikannya. Perubahan ini juga mempengaruhi negara-negara yang berbeda, dan beberapa dari mereka tidak hanya siap, tetapi juga menjadi pemicu revolusi ini. Ini adalah revolusi industri 4.0, yang tidak dirangsang oleh mafia yang marah, tetapi oleh pertumbuhan teknologi yang mensinergikan proses otomatisasi dan pertukaran data yang semakin kaya dan intensif.


Proses automatisasi dengan computer integrated manufacturing (CIM) telah dikembangkan semenjak 1970-an oleh sejumlah perusahaan laksana Toyota. Tetapi, dengan adanya Internet of Things (IoT), integrasi proses menjadi lebih gampang dan terjangkau dari sisi biaya, bahkan dapat diintegrasikan dengan borongan rantai nilai (value chain), laksana dengan sistem logistik, distribusi, dan pemasaran, tergolong integrasi antar-perusahaan.

Perkembangan di atas akan dominan  besar pada daya saing ekonomi kita. Jika industri nasional tidak dapat mengikuti perkembangan, maka mereka bakal tersisih dari kompetisi bisnis yang hampir tidak kenal batas-batas negara lagi. Sementara andai mereka mengadopsi teknologi-teknologi yang menjadi penopang industri 4.0, maka akan dominan  besar pada nasib semua pekerja. Mereka mesti menambah keterampilannya. 


Industri nasional pun dituntut guna lebih inovatif. Kalau melulu semata-mata mengandalkan pengoperasian mesin modern yang dibeli dan tanpa menambahkan bagian inovasi, maka industri nasional sulit membina daya saing, sebab mesin-mesin itu juga dapat dibeli oleh industri di negara-negara beda juga, sehingga anda tidak memiliki keunggulan apa-apa dengan teknik itu.

Tantangan untuk pekerja pun sangat berat. Karena mereka bukan sekadar dituntut untuk menambah keterampilannya, namun lebih dari itu. Proses otomatisasi yang semakin cerdas bakal menggusur pekerjaan-pekerjaan yang teratur atau repetitif/berulang dengan pola tetap. Penggusuran ini tidak melulu terjadi di pabrik, namun di sekian banyak  sektor. Bukankah guna sebagian hal dengan perbankan, nasabah bukan lagi berinteraksi dengan pegawai bank, namun lebih tidak sedikit memanfaatkan ATM, internet banking atau mobile banking? 

Pekerjaan yang dulu mesti dilaksanakan oleh tidak sedikit orang kini dapat dilakukan oleh mesin atau komputer, atau kalaupun terdapat orang yang tercebur jumlahnya menjadi lebih sedikit. Pengerjaan pembukuan yang melulu memasukkan data pemasukan dan pengeluaran, serta menghitung jumlah dan selisihnya, telah demikian mudah dilaksanakan dengan komputer, sampai-sampai pengerjaannya tidak membutuhkan tidak sedikit orang lagi. Apa lagi bila transaksinya secara online, data interaksi langsung masuk ke software pembukuan yang langsung mengerjakan penghitungan secara otomatis. 

Demikian pun dalam proses produksi, guna jumlah output yang sama, semakin tidak banyak tenaga insan yang terlibat. Kalau begitu, lalu kegiatan apa yang masih tersisa untuk tenaga kerja manusia? Tentu yang non-rutin, laksana yang responsif terhadap keperluan pelanggan yang pelbagai dan berubah-ubah, serta kegiatan yang kreatif, inovatif ataupun intelektual. Karena tersebut kita mesti mendidik diri anda sendiri menjadi kreatif, inovatif, ataupun intelektual. 

Lembaga pendidikan pun harus menyiapkan peserta didiknya menjadi manusia kreatif, inovatif, dan intelektual. Orang tidak serta-merta dapat menjadi kreatif atau inovatif melulu karena dituntut keadaan. Mereka butuh mengasahnya, baik kemampuan maupun sikap mentalnya. Kreativitas menunjukkan keterampilan menghasilkan usulan baru, yang dapat dalam format mengkombinasikan gagasan-gagasan yang terdapat menjadi sesuatu yang baru. Sedangkan inovatif, selain mengusulkan sesuatu yang baru, pun membuatnya diterima masyarakat. Bagi itu, usulan baru itu harus dapat menyelesaikan masalah yang dialami masyarakat atau pelanggan. 

Keinovatifan ini dinaikkan dengan learning by doing, yaitu dengan tercebur dalam kerja nyata mengagas hal-hal baru untuk menuntaskan masalah. Sikap pantang menyerah dibutuhkan karena upaya inovatif tidak dapat dijamin keberhasilannya. Solusi teknis tidak selalu dapat ditemukan. Kalaupun bisa, penyelesaian teknis ini masih mesti menjebol ujian dari pasar, baik penerimaan konsumen maupun kompetisi dengan produk sejenis. Coba dan keliru (trial and error) ialah proses normal dalam mengembangkan inovasi. Kegagalan, yang dapat terjadi berulang kali, ialah konsekuensi yang mesti dilalui.

Di samping inisiatif individu dan lembaga pendidikan, lingkungan sosial --baik dalam dunia kerja maupun masyarakat luas-- sangat memprovokasi pembentukan sikap kreatif dan inovatif tersebut. Risiko kegagalan yang mesti ditanggung seorang inovator menciptakan dia membutuhkan sokongan lingkungan sosial yang toleran terhadap kesalahan dan kegagalan. Melakukan inovasi ialah mengeksplorasi sesuatu yang baru. Jadi bisa jadi kecil orang langsung dapat menemukan penyelesaian yang tepat. 

Sebagai contoh, Silicon Valley ialah tempat yang paling toleran terhadap kegagalan. Reputasi seseorang tidak bakal rusak melulu karena tidak berhasil  baik dalam pengembangan teknologi ataupun bisnisnya. Para pemodal ventura masih bakal tetap tersingkap terhadap usulan baru mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar