Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Game - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Rabu, 26 Juni 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Game

Maraknya Orang-Orang yang “Mati” Karena Kecanduan Game


kecanduan game

Perkembangan Teknologi - Maraknya pemberitaan, baik online maupun yang tersebar melalu desas-desus di masyarakat tentang orang yang meninggal dampak kecanduan game, entah online atau bukan menciptakan saya miris. Saya beranggapan ulang mengenai, entah dapat dibilang kesenangan atau barangkali lebih untuk hobbi memainkan game. Masihkah relevankah suatu permainan melulu sebatas permainan saja?

Pada era pertumbuhan teknologi macam kini ini, orang yang memandang memainkan game sebagai suatu permainan saja semakin berkurang jumlahnya. Ada semacam kecemasan yang hadir sebagai dampak kita terlalu memuliakan permainannya. Kita mulai melupakan hakikat bermain suatu permainan. Game (Bahasa asing), yang dalam Bahasa Indonesia berarti permainan tersebut mulai bergeser makna harafiahnya.

BACA JUGA : Workshop Gender dan Anak Pada Era Industri 4.0 Dibutuhkan Guna Pembentukan Karakter

Ketika anda dulu beranggapan bahwa game/permainan melulu sebagai saranan hiburan guna melepas penat dan berfoya-foya mulai terpinggirkan. Belakangan berkembang suatu artian eksklusif bahwa bermain game berarti kompetisi. Bahwa dalam bermain suatu permainan, anggaplah suatu permainan tradisional, anda dituntut untuk bersaing yang memang begitu. Misal saja anda bermain egrang, semua bersaing menjadi yang kesatu menjangkau garis finish dengan perangkat permainannya suatu enggrang ialah hal yang lumrah saja. Dan memang laksana itulah yang berkembang semenjak dulu.

Saya yang hidup semenjak era saat game masih dimainkan semua badan hingga dengan era saat game dimainkan melulu dengan ibu jari merasakan perbedaan begitu besar. Bahwa saat dulu, bermain suatu permainan memberi tidak sedikit benefit. Hal ini sebab tidak melulu otak dan ibu jari saja yang bermain. Bahkan semua badan dipaksa guna bergerak. Tidak heran, pada kesudahannya orang-orang tidak mati di lokasi duduk melulu karena memainkan game. Justru tidak sedikit yang merasakan luka dan sejenisnya bahkan meregang nyawa sebagai dampak bermain suatu permainan dan tersebut terjadi bukan di lokasi duduk saja.

Orang-Orang yang “Mati” Karena Kecanduan Game
Maraknya perkabaran dan desas-desus di masyarakat tentang orang yang meninggal dampak kecanduan game menciptakan saya miris.

BACA JUGA : China Tingkatkan Kemampuan Kecerdasan Buatan guna Kesehatan

Maraknya pemberitaan, baik online maupun yang tersebar melalu desas-desus di masyarakat tentang orang yang meninggal dampak kecanduan game, entah online atau bukan menciptakan saya miris. Saya beranggapan ulang mengenai, entah dapat dibilang kesenangan atau barangkali lebih untuk hobbi memainkan game. Masihkah relevankah suatu permainan melulu sebatas permainan saja?

Pada era pertumbuhan teknologi macam kini ini, orang yang memandang memainkan game sebagai suatu permainan saja semakin berkurang jumlahnya. Ada semacam kecemasan yang hadir sebagai dampak kita terlalu memuliakan permainannya. Kita mulai melupakan hakikat bermain suatu permainan. Game (Bahasa asing), yang dalam Bahasa Indonesia berarti permainan tersebut mulai bergeser makna harafiahnya.

Ketika anda dulu beranggapan bahwa game/permainan melulu sebagai saranan hiburan guna melepas penat dan berfoya-foya mulai terpinggirkan. Belakangan berkembang suatu artian eksklusif bahwa bermain game berarti kompetisi. Bahwa dalam bermain suatu permainan, anggaplah suatu permainan tradisional, anda dituntut untuk bersaing yang memang begitu. Misal saja anda bermain egrang, semua bersaing menjadi yang kesatu menjangkau garis finish dengan perangkat permainannya suatu enggrang ialah hal yang lumrah saja. Dan memang laksana itulah yang berkembang semenjak dulu.

Saya yang hidup semenjak era saat game masih dimainkan semua badan hingga dengan era saat game dimainkan melulu dengan ibu jari merasakan perbedaan begitu besar. Bahwa saat dulu, bermain suatu permainan memberi tidak sedikit benefit. Hal ini sebab tidak melulu otak dan ibu jari saja yang bermain. Bahkan semua badan dipaksa guna bergerak. Tidak heran, pada kesudahannya orang-orang tidak mati di lokasi duduk melulu karena memainkan game. Justru tidak sedikit yang merasakan luka dan sejenisnya bahkan meregang nyawa sebagai dampak bermain suatu permainan dan tersebut terjadi bukan di lokasi duduk saja.

Ada semacam kecenderungan sebagai akibat perkembangan teknologi bahwa permainan yang bagus ialah permainan yang dimainkan di lokasi duduk. Walau semakin kesini, anggapan ini mulai berubah sebab perusahaan-perusahaan game , dengan teknologi tinggi, mulai mengarahkan supaya sebuah game dapat dimainkan secara dinamis. Namun tetap saja hakikat bermain suatu game pada kesudahannya tetap mesti anda pertanyakan.

Main game ialah sebuah kata kerja. Yang artinya ialah bentuk kegiatan yang mengasyikkan yang dilaksanakan semata-mata untuk kegiatan itu sendiri, bukan karena hendak memperoleh sesuatu yang didapatkan dari kegiatan tersebut. Pengertian ini Memberi tidak banyak gambaran, bahwa memainkannya untuk suatu kesenangan. Tidak terdapat lebihnya. Bahwa cocok era ini, orang-orang dapat pendapatan dari bermain, tersebut ialah sebuah keuntungan bikin mereka. Tapi saat ada orang yang kemudian meninggal, lagipula misalnya, di kursi lokasi dia memainkan game benar-benar mesti anda pertanyakan lagi definisi game menurut keterangan dari orang-orang dengan kecenderungan ini.

Game tidak seharunya memberi akibat yang negatif. Dari apa yang diterangkan diatas, game melulu mentok sebagai sarana kesenangan. Tidak butuh ada deviden yang terjadi atasnya. Kerugian? Apalagi itu. Bahwa semakin tidak sedikit orang kejangkitan game bahkan tidak istirahat sehari bahkan seminggu, tersebut sudah di luar batas kewajaran. Game tidak seharusnya memberi anda beban. Justru dengan bermain game, beban yang semula ada dapat berangsur-angsur anda lupakan.

Bahwa orang-orang kalap dengan memainkan game, tersebut seharusnya tidak terjadi. Game mestinya dapat membawa anda pada nilai-nilai filosofis. Orang-orang pada tempo doeloe memainkan suatu game dengan pemikiran filosofis tertentu. Bahkan memainkan game era dulu dapat jadi di samping sebagai format kesenangan dan bernilai filosofis juga dapat untuk strategi perang. Dan satu urusan yang menjadi benang merah, mereka tidak mati sebab permainan. Justru meninggal dengan sebuah kehormatan hati di medan perang.

BACA JUGA : Bukalapak Startup Teratas di Indonesia Versi Startup Ranking

Tidak ada komentar:

Posting Komentar