Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi yang Ada di Indonesia - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Rabu, 07 Agustus 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi yang Ada di Indonesia

Foto: Nadiem Makarim, CEO & Founder GOJEK



Podcast Mulai Dilirik Sebagai Saluran Memasang Iklan

Perkembangan Teknologi | Pendiri sekaligus CEO GOJEK, Nadiem Makarim, mengenalkan serial podcast pada April 2019 kemudian yang mempunyai nama GO FIGURE. Dalam serial tersebut, ia berniat mengekspos “dapur” dari perusahaannya yang tidak tidak sedikit diketahui masyarakat.

Ia menyiarkan podcast kesatunya dengan judul Growing Pains of Becoming a Decacorn. Ia tak sendiri, tetapi ditemani sejumlah rekannya sesama co-founder GOJEK.


GO FIGURE menjadi drainase resmi CEO GOJEK guna berkomunikasi dengan masyarakat secara lebih dekat. Unicorn dari Indonesia tersebut menggunakan sekian banyak  macam saluran, mulai dari podcast sebagai media utama, konten video yang diunggah pada channel di YouTube, sampai situs web yang mengintegrasikan semua drainase tersebut.

Perkembangan di Indonesia

Langkah GOJEK berpotensi menciptakan media podcast dikenal lebih tidak sedikit orang. Meski sudah lama ada, perkembangannya di Indonesia terbilang lamban dikomparasikan jenis konten lain, laksana video dan foto.
Podcast muncul bareng dengan iPod yang diluncurkan tahun 2001. Awalnya adalahsebuah fitur bawaan pada iPod guna menggantikan faedah radio. Nama podcast sendiri adalahakronim dari iPod dan broadcast.


Ekosistem digital dan penetrasi internet di Indonesia yang belum merata turut berkontribusi menjadi penyebab perkembangan podcast di domestik relatif lambat. Namun, seiring pertumbuhan internet yang cepat dan meluas, jenis konten ini kian dilirik. Tak melulu sebagai sebuah drainase mengekspresikan kegemaran bercakap-cakap, tapi pun dapat dimanfaatkan oleh perusahaan demi kian dekat dengan semua pelanggannya.

Apa yang dilaksanakan oleh Nadiem memang unik perhatian tidak sedikit orang. Tak hanya untuk para pendengar saja, namun juga untuk para kreator podcast, atau biasa dinamakan podcaster.

Podcaster generasi kesatu Indonesia

Boy Avianto sedang bersekolah di Jerman saat kesatu kali menciptakan saluran podcast pada April 2005. Di tahun yang sama, Rane Hafied tadinya hanya guna mengarsipkan hasil siaran dan wawancara radio.


“Perkenalan dengan podcast dibuka dari kegiatan saya sebagai jurnalis dan penyiar di suatu radio siaran internasional di Singapura,” ujar Rane. “Kebetulan saat tersebut radio kami sudah memakai pengarsipan siaran secara digital. Maka muncul gagasan untuk memasang file MP3 rekaman acara-acara kami di website supaya mudah didownload pendengar yang ketinggalan mendengarkan.”

Rane dan Boy sejak mula sudah menebak bahwa podcast bakal berkembang. Kala tersebut jenis konten ini memang belum tidak sedikit dikenal di Indonesia. Namun, menurut keterangan dari Rane, kelaziman orang Indonesia yang gemar mendownload lagu-lagu dalam format MP3 sudah dapat menjadi indikator pertumbuhan audio digital.

Rane masih konsisten menciptakan podcast sampai kini, tetapi Boy Avianto malah sudah berhenti. Ia sekarang bekerja sebagai UX/UI designer berbasis di New York.

“Saya rasa podcast tema politik dan sosial jarang ya terdapat di Indonesia. Rata-rata teknologi atau sebatas ngobrol-ngobrol aja,” kata Boy. “Di sini memang jadi media pilihan tapi sama sih problemnya, masalah authoritative.”

Ia menyaksikan tren podcast di Indonesia memang bertolak belakang dengan negara asalnya Amerika Serikat (AS). Di AS orang lebih tidak sedikit membuat channel podcast dengan tema sosial, politik, dan sains, sementara Indonesia hiburan, bisnis, dan teknologi lebih diminati.

Rane sempat mengerjakan real count di Spotify dan SoundCloud pada mula 2018 lalu, dan mengejar sekitar 80-an drainase podcast dari Indonesia. Angka tersebut berubah signifikan pada mula 2019 dengan jumlah selama 300-an, dan dapat terus meningkat mengingat tidak sedikit influencer yang pun gencar menciptakan podcast.

Jenis podcast yang digemari orang Indonesia

Pada 2018 lalu, survei yang dilaksanakan DailySocial mengindikasikan konten bertajuk bisnis yang dibawakan oleh entrepreneur atau pengusaha punya paling tidak sedikit peminat, dibuntuti oleh selebritas di peringkat kedua dan para berpengalaman di peringkat ketiga.
Masih dari hasil survei yang sama, teknologi menjadi di antara tema yang paling digemari pendengar di Indonesia. Salah satu podcaster yang membicarakan teknologi ialah Arfiadi Pratama.

Arfi kerap menciptakan konten mengenai pengalamannya memakai produk gawai di drainase dengan nama Arvipra Tech Podcast. Pengalaman memakai gawai secara personal dapat menjadi informasi menarik untuk para pendengar. Konten teknologi yang Arfi buat seringkali juga adalahsaran atau permintaan dari pendengarnya.

Ia pun aktif mengelola akun komunitas Podcast Indonesia. Sewaktu disusun tahun 2018 lalu, anggota komunitas ini melulu sebanyak empat belas orang. Komunitas ini mencapai tak melulu lewat Instagram, namun pun membentuk grup dalam LINE dengan anggota aktif lebih dari sembilan ratus orang.

Beberapa pengelola produk di Indonesia sekarang mulai melirik podcast sebagai drainase memasang iklan dalam format penyebutan nama brand atau ad-lib. Tak jarang pula sejumlah radio menunaikan dan mengunggah ulang konten dari kreator Indonesia.

Arfi mengakui bila hal semacam ini memang belum banyak, tetapi tidak dipungkiri berpotensi guna menghasilkan duit ke depannya. “Untuk podcast bikin saya individu belum menghasilkan langsung, namun membuka pintu kesempatan baru. Sehingga saya punya pendapatan tambahan walau tidak secara langsung bisa dari siaran podcast.”

Jika di Amerika Serikat podcast telah jauh berkembang, tak menutup bisa jadi pula di Indonesia. Beragam inovasi mulai dihadirkan penyedia platform podcast, laksana Anchor yang mulai mengerjakan program monetisasi untuk semua penyiar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar