Perkembangan Teknologi | Sejarah Perkembangan Teknologi di Indonesia - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Kamis, 13 Juni 2019

Perkembangan Teknologi | Sejarah Perkembangan Teknologi di Indonesia

Hasil gambar untuk peta modifikasi cuaca


Impor Beras Bisa Ditekan dengan Modifikasi Cuaca

Perkembangan Teknologi | Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) menggagas pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di 10 provinsi sentra penghasil beras nasional. Peta pengamalan Teknologi Modifikasi Cuaca di sekian banyak  wilayah sentra penghasil beras sudah disusun.


“Asumsi skenario pengamalan TMC di 10 provinsi bakal menghasilkan 682.713 ton beras pertahun. Bandingkan dengan rata-rata impor beras nasional rentang 2013-2017 selama 753.377 ton beras per tahun. Maka dapat dipastikan nyaris meniadakan impor beras bila dilakukan TMC secara tepat waktu,” papar Tri Handoko Seto, Kepala BBTMC di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Sepuluh provinsi sentra buatan beras nasional, yakni Jawa Timur, Jawa Barat dan Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan.

Tri Handoko Seto mengatakan, pada 2007, BBTMC telah mengemban TMC di sejumlah wilayah untuk meningkatkan pasokan air irigasi di sebanyak waduk strategis sentra produk beras nasional, yakni Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur (Jabar), Waduk Gajahmungkur dan Kedungombo (Jateng), Waduk Sutami, Sengguruh dan Solerejo (Jatim), serta Waduk Batutegi (Lampung). “Upaya tersebut dapat memberikan donasi sebesar 25 persen dari rencana target peningatan buatan beras nasional sebesar 2 juta ton pada tahun 2007 atau selama 1,8 persen terhadap buatan beras nasional di tahun itu,” ujarnya.


Pada 2012, lanjut Seto, BBTMC pulang dimintakan pertolongan untuk distrik Jawa Barat dalam rangka program keawetan pangan nasional surplus 10 juta ton beras (dukung program 2014), dan dapat memberikan donasi buatan beras sebesar 7,7 persen di distrik tersebut.

Berdasarkan empiris tersebut, kata Seto, pihaknya optimis buatan beras bakal meningkat secara signifikan bila dilaksanakan secara lebih luas di wilayah-wilayah beda yang menjadi sentra buatan nasional. “Kami asumsikan bahkan dapat memenuhi kebutuhan domestik pertahun . Hasil hitung-hitungan TMC berpotensi meminimalisir keperluan impor sebesar 90,62 persen pertahun,” ujarnya.

Peta Pelaksanaan TMC Antisipasi Kekeringan

Budi Harsoyo, Peneliti Madya BBTMC mengatakan, menurut kajian data historis klimatologis sekitar rentang masa-masa 15 tahun, pihaknya telah merangkai peta rencana masa-masa pelaksanaan pemanfaatan TMC guna antisipasi kekeringan. 


Tiga besar provinsi sentra buatan beras nasional yang rata-rata produksinya diatas 10 juta ton pertahun setiap secara berurutan ialah Jawa Barat dan Banten, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jawa Barat dan Banten yang memiliki rata-rata buatan beras selama 13 juta ton per tahun dapat mengemban TMC pada bulan April atau November. Sementara Jawa Timur yang rata-rata buatan berasnya menjangkau sekitar 12 juta ton per tahun dapat mengemban TMC pada bulan Maret atau November. Demikian pun untuk Jawa Tengah yang buatan berasnya rata-rata selama 10 juta ton per tahun dapat mengemban TMC pada bulan April atau November.

Wilayah lainnya dengan rata-rata buatan beras 2 sampai 5 juta ton laksana Sumatera Utara, maka TMC dapat dilakukan pada bulan Maret, April, Mei, atau Desember. Demikian pula, Sumatera Barat dapat dilakukan TMC pada bulan Maret, September atau Oktober. Selanjutnya guna Sumatera Selatan pada bulan Februari atau Mei. Provinsi Lampung diusulkan TMC pada bulan Maret, Sulawesi Selatan pada bulan April, dan Kalimatan Selatan pada bulan Mei atau Oktober.

Berdasarkan keterangan dari Budi Harsoyo, sistem Perberasan Nasional tidak melulu memasukkan hal sarana irigasi, embrio atau pupuk saja selaku inputan yang terkontrol, tetapi pun bergantung pada hal lingkungan yang terdiri dari bagian iklim, air, serta lahan, tergolong bencana alam. “Perubahan iklim bisa diintervensi oleh pemanfaatan TMC,” ujarnya.


Pemanfaatan TMC untuk keperluan irigasi dan pertanian, kata Budi, sudah ditata dalam Peraturan Pemerintah No.42/2008 mengenai Pengelolaan Sumber Daya Air. Hal tersebut tercantum pada Paragraf 3 mengenai Pengisian Air Pada Sumber Air Pasal 53 ayat 1 (d) yang melafalkan bahwa Pengisian air pada sumber air bisa dilaksanakan, antara lain, dalam format pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk menambah curah hujan dalam kurun masa-masa tertentu. Pada bagian beda dalam Bagian Keenam mengenai Pengembangan Sumberdaya Air, Pasal 82 pun menuliskan bahwa pengembangan faedah dan guna air hujan dilakukan dengan mengembangkan Teknologi Modifikasi Cuaca.

Awalnya pada periode tahun 1976 – 1978 Hujan Buatan sedang di Direktorat Agronomi Divisi Advanced Technology Pertamina dan kegiatannya masih mempunyai sifat percobaan. Pada tahun 1977, kedudukan percobaan dinaikkan menjadi Proyek Hujan Buatan dan berada pada Direktorat Agronomi Divisi Advanced Technology Pertamina. Tahun 1978, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berdiri dan secara kelembagaan Proyek Hujan Buatan berada pada Direktorat Pengembangan Kekayaan Alam (PKA, sekarang berubah nama menjadi Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam – TPSA).

Pada bulan Desember 1985, kedudukan Proyek Hujan Buatan dinaikkan menjadi Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan (UPTHB) menurut Surat Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi No: SK/342/KA/ BPPT/XII/1985 tanggal 3 Desember 1985, yang lantas pada tanggal 19 Oktober 2015 berubah nama menjadi Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) menurut Peraturan Kepala (Perka) BPPT No. 10 Tahun 2015. Berdasarkan Perka BPPT Nomor 010 Tahun 2015 tersebut, BBTMC mempunyai tugas melaksanakan pekerjaan pelayanan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan di antara fungsinya ialah memberikan pelayanan jasa TMC untuk instansi Pemerintah dan swasta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar