Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Internet - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Rabu, 03 Juli 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Internet



Hasil gambar untuk hoaks

Perkembangan Teknologi Internet | Kehidupan sekarang telah memperlakukan insan dengan teknik mudah. Perkembangan teknologi menjadi salah satu dalil dari semakin majunya kehidupan insan saat ini. Berbagai aspek kehidupan sudah dapat didukung sarat dengan pertumbuhan teknologi yang semakin hari semakin membaik saja. Salah satu aspek sakral dalam kehidupan insan yang juga ditolong oleh teknologi ialah komunikasi dan informasi. Dewasa ini, keperluan komunikasi dan informasi semakin lancar diciptakan dan didapat. Internet membantu insan dalam urusan ini. 

Jangkauan informasi juga jadi cepat dan luas dibuatnya. Sifatnya yang universal dan meluas mengakibatkan tidak adanya kepemilikan pada pihak tertentu dalam pemakaiannya. Semua orang yang mempunyai akses internet, mempunyai kuasa pada buatan dan penyaluran informasi. Kemudian insan mulai dihujani kesadaran, bahwa pertumbuhan teknologi tidak melulu membawa fasilitas namun pun kebobrokan. 


Timbulnya dahaga dalam sorotan menyebabkan insan gencar bermain dengan informasi. Tak lagi peduli dengan keabsahan, insan mulai membuat informasi menurut kepentingan pribadi. Berita bohong mulai giat diproduksi demi memanjakan kepuasaan. Kita lebih kenal dengan istilah hoaks guna menyebutnya. Hoax menjadi suatu istilah yang mencerminkan informasi salah, yang dalam pembuatannya sengaja dipalsukan. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang berisi makna berita bohong. Informasi yang disebutkan sebagai hoaks ialah informasi yang tidak didasarkan pada keabsahan. Kebenaran dan fakta dipelintir ataupun diciptakan secara sengaja oleh pihak yang mempunyai kepentingan. Dengan kemerdekaan yang dipunyai manusia dalam memproduksi dan menyalurkan informasi, serta kuasa mereka untuk memakai internet, penyebaran hoaks menjadi suatu hal yang gampang untuk dilakukan.

Karena umumnya, penyebaran hoaks ditolong dengan internet yang membuat cakupan informasi menjadi kilat dan luas. Mulai dari bulan Agustus 2018 hingga pada bulan April 2019 lalu, 1.731 hoax terdeteksi oleh Mesin AIS kepunyaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia (RI) (sumber: detikinet, 1 Mei 2019). Indonesia memang rawan terserang hoax akhir-akhir ini, diperbanyak dengan hangatnya hal politik yang dicampuri kepentingan pihak sana-sini. 


Hoaks gampang tersebar dari platform sosial media dan software obrolan online. Penyebarannya tidak sulit, lumayan kirimkan informasi bohong itu lewat kedudukan atau obrolan. Yang percaya dan terpedaya tidak sedikit, akibatnya timbul hawa panas yang merasuk untuk kepentingan. Para penerima informasi yang termakan, lantas turut menyebarkan. Tanpa peduli benar atau salah informasi tersebut. 

Yang penting, ia percaya apa yang menurut keterangan dari ia benar. Pada Oktober 2018 lalu, masyarakat Indonesia pernah termakan informasi bohong. Skala korban informasi bohong saat tersebut sangat luas, diperbanyak dengan bumbu politik yang diperkirakan membelakanginya. Wajah lebam dari seorang figur wanita, Ratna Sarumpaet, diamanatkan sebagai penyebab kekerasan yang diterimanya. Ia yang kala tersebut berada di Tim Sukses Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden 02 Prabowo-Sandi, sukses membuat gentar masyarakat Indonesia. 

Ungkapan kecewa diayunkan oleh Prabowo Subianto, yang menyayangi dan mengasumsikan ada bagian politik dibalik penyerangan. Semakin luas informasi menyebar, semakin tidak sedikit korban yang percaya, semakin risau pula Ratna dibuatnya. Pengakuan kesudahannya menjadi pilihan untuk Ratna untuk menyelesaikan cerita rapi penyerangannya tersebut. Nyatanya, lebam di wajah Ratna ialah efek samping dari operasi bedah plastik yang baru diterimanya. 

Siapa yang tak kaget, siapa yang tak kecewa, telah simpatik sehingga bawa politik, ternyata melulu api bohong lah yang bergemercik. Belum belajar dari kekeliruan yang sama, masyarakat kembali terpedaya dengan informasi Tryout Online Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang tersebar melewati instagram 25 Juni 2019 lalu. Masyarakat, terutama generasi muda menyalurkan informasi tersebut melewati fitur instagram story sebagai di antara persyaratan tryout. 


Beberapa hal beda turut dijadikan persyaratan untuk mengekor Tryout Online CPNS tersebut. Pendaftarannya melulu membutuhkan pengisian form melewati Google form. Tidak terdapat persyaratan administrasi lain, sampai-sampai semuanya disebutkan mudah dan murah. Siapa yang tak tergiur guna mengikutinya? Sebagai salah satu tahapan latihan dalam pengamalan tes CPNS yang sebenarnya. Belum lagi, tryout ini dilakukan secara online dan gratis. Sangat cocok dengan ciri khas milenial (yang ketika ini terdapat di umur produktif guna bekerja) yang menyenangi hal-hal mudah. Namun mereka yang jeli sukses menemukan kejanggalan. 

Nyatanya, kode tryout yang diserahkan kepada semua calon peserta bernomor sama. Dan situs domain yang tercantum pun malah mengarahkan kita untuk form di Google, bukan pada situs resmi info CPNS. Pada akhirnya, terbukti lah bahwa tryout itu adalahberita bohong yang tidak jelas destinasi dari pembentukannya apa. Yang jadi sorotan malah respon masyarakat terhadap mereka yang tertipu. Berawal dari hoaks, bermunculan perkataan-perkataan yang tidak beradab. Bukannya mengedukasi, malah menghakimi. 

Dari gejala tersebut, sebetulnya tanggapan laksana apa yang dapat dikatakan ‘benar’ dalam menanggapi hoaks dan korban-korbannya? Apakah memberi kalimat-kalimat penghakiman juga disebutkan sebagai tanggapan yang benar, sebab kita tidak tergolong sebagai korban dari hoaks tersebut? Segelintir masyarakat merasa layak melempar kalimat-kalimat penghakiman sebab mereka merasa benar sebagai di antara yang tidak jatuh ke perangkap semua pencipta hoaks. Kalau berujung laksana ini, tanggung jawab pendidikan hoaks dipegang oleh siapa? Jika orang-orang yang sukses tidak terpedaya akhirnya malah menghakimi juga. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar