Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Komunikasi Kelompok - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Kamis, 11 Juli 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Komunikasi Kelompok





Perkembangan Teknologi | Ekraf mem­berikan sum­bangan pen­ting untuk ekonomi nasional. Data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf ) dan Badan Pusat Statistik (BPS) melafalkan Produk Domestik Bruto (PDB) Sektor Ekraf 2017 menyerahkan kon­tribusi 7,44 persen terhadap total per­ekonomian nasional dengan nominal sebesar 989 triliun rupiah.

Data terakhir pada 2017 menyebut­kan, PDB ekraf terus tumbuh sebesar 5,06 persen, dikomparasikan 2016. Setiap tahun ekraf Indonesia terus tumbuh positif dan diduga pada 2018 ang­kanya mendekati 1,102 triliun rupiah.

Pertumbuhan terbaik ekraf disum­bang DKV yang tumbuh sebesar 814 persen. Pertumbuhan ini lumayan tinggi dari 16 subsektor ekraf,” kata Pelaksana Deputi Pemasaran Bekraf, Islamuddin Rusmin Reka, di Jakarta baru-baru ini.


Isla­muddin me­ngatakan, DKV mempunyai potensi dalam mendorong perkembangan ekraf. Subsek­tor ini bakal memberikan akibat besar terhadap ekraf, di samping subsektor lain laksana kuliner, fesyen, kriya, TV dan radio, penerbitan, arsitektur, game dan developer, musik, periklanan, film animasi dan video, desain produk, seni rupa, dan desain interior.

“Dengan potensi market yang besar, serta timbulnya generasi milenial, sub­sektor DKV mempunyai potensi dalam men­dorong perkembangan ekraf yang pun dinilainya dapat mem­berikan akibat besar ter­hadap subsektor ekraf lainnya,” lanjutnya.

Keberadaan DKV dan desain produk bakal menjadi urgen dalam pertumbuhan industri kreatif. Hal ini terjadi sebab adanya keperluan pelaku usaha berhubungan branding, pelajaran tampi­lan, desain katalog, dan lain-lain.

Ia menambahkan, seluruh bisnis dan subsektor memerlukan DKV. Sebuah produk memerlukan peran desain grafis, untuk mengerjakan desain produk, desain promosi, berupa spanduk, kata­log, iklan, dan lainnya.

Co-Founder & Design Director of Visious Studio sekaligus Ketua Asosiasi Designer Grafis Indonesia (ADGI), Rege Indrastudianto, mengatakan, desain grafis dan desain produk adalahelemen penting. Hal ini sebab kesan kesatu saat melihat produk ialah tampilannya, baik dari format produk, warna maupun kemasannya.


Kesan terhadap produk ini yang har­us dicerna para produsen. Tampilan identitas visual yang menarik, baik dari cerita, grafis maupun kualitas cetak, akan dapat memberikan kesan yang baik atas produk yang ada. “Saran kami, untuk semua pelaku industri, dapat lebih menyimak soal identitas visual,” ujarnya.

Founder, Director – E+Partners Brand Design Consultancy serta Board of Directors, Emir Hakim, dari ADGI ini juga mengatakan, pertumbuhan ekraf di Indonesia, merupakan peluang baik untuk para desainer grafis. “Kuliner bila kemasannya tidak didukung pamflet unik tidak bakal laku,” ujar dia. hay/R-1

Butuh Teknologi Cetak Berkualitas

Ekraf terutama pada bidang desain grafis memerlukan teknologi cetak mumpuni guna mencetak hasil karya mereka dari komputer.

Direktur PT Astra Graphia Tbk, Mangara Pangaribuan, mengata­kan, Astragraphia menyokong industri ekraf Indonesia secara end-to-end, mulai dari segi People, Technology, dan Process. Perusa­haan ini menawarkan penyelesaian digi­tal printing dengan menawarkan brand  Fuji Xerox dan digital off­set dengan brand  Fujifilm di In­donesia.

“Dari sisi People, Astragraphia sudah siap menyerahkan pelayanan terbaik guna pelanggan dengan kesebelasan yang kompeten di bidang digi­tal printing, melewati serangkaian pekerjaan edukasi, workshop dan training,” ujarnya di Jakarta baru-baru ini.

Dari sisi Technlogy Astragraph­ia menyerahkan pengalaman dan pengetahuan untuk masyarakat berhubungan dengan teknologi, Astra­graphia mempunyai printing show­room. Publik dapat memahami teknologi dan proses cetak sampai hasil akhir sebagai manifertasi dari Procces.

“Kami bercita-cita ketiga urusan di atas bisa dimanfaatkan semua pemilik usaha printing maupun end-user supaya dapat menambah pemaha­man tentang proses cetak yang gampang dan hasil cetak yang presisi serta menambah nilai jual kary­anya,” ujar Mangara.

Sementara Rege Indrastudianto mengutarakan pelaku usaha di In­donesia masih butuh pemahaman yang baik mengenai pentingnya iden­titas visual. Identitas terwujud de­ngan mesin cetak yang berkualitas. hay/R-1


Peran Desain Grafis di Era Digital

Sebagai unsur dari subsektor DKV, desain grafis termasuk paling penting. Profesi desain grafis menjadi vital dan dibutuh­kan pada era ekonomi digital seperti kini ini.

Sebelumnya kiblat desain tidak jarang kali mengacu pada desain dari luar negeri. Sekarang saatnya semua desainer grafis Indonesia mengindikasikan karyanya, sampai-sampai tidak kalah berlomba de­ngan desainer manca negara.

Berdasarkan keterangan dari Rege Indrastudianto, dulu semua desainer grafis masih berkiblat terbit negeri dalam membuat karya, tetapi sekarang telah mulai percaya diri dalam mengindikasikan karyanya sampai-sampai tidak kalah dari semua de­sainer grafis luar negeri.

“Saya individu optimistis dengan sokongan pemerintah dan sinergi antara praktisi, dan dunia usaha serta pemerintah, kami semua de­sainer grafis dan produsen ekraf bisa berko­laborasi dalam memajukan Industri Kreatif Indonesia jauh lebih baik,” ujar dia.

Founder, Director E+Partners Brand Design Consultancy serta Board of Directors, Emir Hakim, menuliskan pekerjaan desain grafis mesti ditangani tenaga lokal, karena andai tidak akan tidak sedikit membuang devisa ke luar negeri. “Kami sering membual dengan semua desainer grafis bagaimana menggali solusi dari masalah ini,” ujar dia.

Baca juga : Huawei menghadirkan HongMeng OS pada 9 Agustus?

Berdasarkan keterangan dari Emir menjadi desainer grafis ketika ini terbantu. Mereka dapat belajar dari tutorial di Youtube. Namun demikian Ketua ADGI ber­sama Bekraf, pun terjun langsung menyerahkan pelatihan berupa workshop di sekian banyak  tempat laksana Bandung dan Yogyakarta.

Workshop dilakukan, salah satunya bertu­juan untuk menyerahkan pemahaman yang lebih baik terutama untuk mereka yang tidak mempunyai latar belakang edukasi formal di bidang desain grafis. Mereka ini perlu pema­haman tentang kisah di balik suatu karya dan pemahaman filosofis dari suatu karya.

“Mereka yang tidak sekolah desain grafis bi­asanya tidak tahu stori behind. Karya mereka boleh indah, namun sering tidak cukup tahu filosofinya,” ujar Emir.

Sementara, Chief of Graphic Communi­cation Service PT Astra Graphia Tbk, EKo Wahyudi, menuliskan para desainer grafis perlu mengekor perkembangan terkini. Mere­ka pun perlu mengetahui teknologi-teknologi cetak terkini guna memproduksi hasil desain mereka.

Astra Graphia mengerjakan pelatihan dan berbagi pengalaman untuk para desainer grafis dalam format sharing knowledge, beru­pa pelatihan di kelas, workshop, sampai pratek (hands on) langsung dengan mesin cetak Fuji Xerox.

“Inisiatif ini yang terus dijalankan masing-masing ta­hunnya supaya nantinya semua desainer ini mam­pu menyerahkan kontribusi terbaik guna siap bekerja dan menyokong pertumbuhan indus­tri kreatif Indonesia,” kata Eko Wahyudi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar