Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Seluler - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Rabu, 03 Juli 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Seluler


Perkembangan Teknologi Seluler | Belum lama ini, banyak berita heboh mengenai sistem komunikasi 5G dan 6G yang diwacanakan bakal segera menggantikan sistem 4G. Pertanyaannya, seberapa hebat sebetulnya teknologi yang dikabarkan ini, dan apakah betul terdapat perusahaan atau negara yang sudah melangsungkan teknologi ini? Bagaimana sebetulnya proses pertumbuhan teknologi telekomunikasi seluler?

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pelita Harapan (UPH), Dr.Ing. Ihan Martoyo, S.T., M.Sc., M.T.S, menjelaskan, sistem 3G sendiri yang berbasis teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) mulai dilangsungkan pada mula tahun 2000.

Baca juga : Tokopedia Resmi Pinang Bridestory dan Parentstory

"Namun secara teknis, sistem CDMA yang mengasingkan sinyal dari pemakai yang bertolak belakang dengan kode yang unik, diketahui memiliki keterbatasan sebab interferensi antar pemakai. Makin banyak pemakai dalam jaringan, kian tinggi tingkat interferensi yang dirasakan sistem," ujar Ihan Martoyo untuk Beritasatu.com, Sabtu (29/6/2019).

Di sisi lain, lanjut Ihan Martoyo, teknologi yang digunakan oleh 4G yang dinamakan dengan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing), sebetulnya sudah dipakai bahkan saat sistem 3G diluncurkan, tetapi pada sistem yang berbeda, contohnya pada sistem TV Digital (DVB-T) atau varian sistem WiFi dari Eropa (IEEE802.11a).

Belakangan diketahui, sistem OFDM ini lebih baik kinerjanya daripada sistem CDMA sebab melakukan kalkulasi sinyal di domain frekuensi sampai-sampai lebih efisien. Akibatnya, sistem 4G berpindah kepada teknologi OFDM dan meninggalkan teknologi CDMA.

Baca juga : Mahasiswa Ilkom USM Rangsang Generasi Muda Ekspresikan Diri

"Sistem 4G mulai dilangsungkan pada mula tahun 2010, dan menargetkan kecepatan transmisi dalam orde ratusan Mbps, jauh lebih cepat dari sistem 3G dengan kecepatan transmisi maksimum hanya sejumlah Mbps saja," tambahnya.

Pengajar Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Sains dan Teknologi UPH ini melanjutkan, sistem 5G yang digadang-gadang menargetkan kecepatan transmisi hingga puluhan Gbps, telah mulai dikenalkan di Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) pada tahun ini. Sementara, Tiongkok sedang dalam proses mengeluarkan lisensi untuk operator guna mengoperasikan 5G.

Namun, lanjut Ihan, untuk menjangkau kecepatan transmisi data yang paling tinggi, diperlukan pita frekuensi yang lebar, sampai-sampai frekuensi pancar 5G terpaksa memungut frekuensi yang paling tinggi hingga orde puluhan GHz. Padahal, diketahui redaman atmosfer pada frekuensi yang semakin tinggi pun semakin besar. Ini akan memberi batas area cakupan dari BTS seluler.

"Akibatnya, sistem 5G yang baru dikenalkan sekarang melulu mencapai kecepatan transmisi sejumlah kali saja dari sistem 4G, masih dalam orde ratusan Mbps," jelas Ihan Martoyo.

Baca juga : Harga CCTV Terbaru dari Berbagai Merek

Lantas, kenapa sudah terjadi heboh sistem 6G? Kalau menyimak siklus pertumbuhan teknologi seluler, maka teknologi generasi yang baru biasa ditargetkan untuk hadir dalam kurun masa-masa 10 tahun. Jadi, kalau diinginkan sistem 6G akan hadir 10 tahun dari sekarang, maka pembicaraan, riset dan diskusi teknologi 6G telah harus dilaksanakan dari sekarang.

"Dalam kerangka itulah, terdapat inisiatif percakapan dan riset tentang sistem 6G yang sudah dibuka oleh sejumlah perusahaan dan kumpulan peneliti dari sekian banyak  negara," kata Ihan Martoyo.

Berdasarkan keterangan dari Ihan Martoyo, teknologi yang tidak jarang disebut dapat menambah kecepatan transmisi data ke tingkat yang lebih tinggi ialah yang dinamakan MIMO (Multiple Input Multiple Output) atau spatial multiplexing. Teknologi ini seringkali menggunakan susunan antena yang mengerjakan transmisi data yang bertolak belakang pada pita frekuensi yang sama.

"Akibatnya, penambahan kecepatan transmisi dapat dilaksanakan dengan menambah jumlah antena yang ditaruh pada jarak yang tertentu sehingga diperoleh perbedaan spasial yang cukup. Teknologi MIMO ini sebenarnya pun sudah diterapkan pada sistem 4G dan 5G dan menjadi di antara teknologi kunci untuk menambah kecepatan transmisi data," jelasnya.

Baca juga : Hal-hal yang Sudah dapat Dilakukan oleh Robot dan Kecerdasan Buatan

Ihan Martoyo menambahkan, evolusi teknologi yang kadang dirasa paling cepat oleh semua pemakai awam, sebetulnya berjalan dengan perubahan yang lambat sekitar puluhan tahun dalam dunia yang digeluti oleh semua penelitinya. Banyak pun teknik yang sebetulnya sudah lama diketahui, menjadi tren lagi dan diaplikasikan pada sistem yang baru.

"Evolusi teknologi yang lambat ini kadang menjadi heboh dihanguskan isu perang dagang dan politis yang berhembus, termasuk laksana yang terjadi dalam heboh berita soal sistem 5G dan 6G akhir-akhir ini," tegasnya.

Secara fisik, kata Ihan Martoyo, penambahan kecepatan transmisi sistem telekomunikasi diberi batas oleh pita frekuensi yang tersedia. Usaha menambah kecepatan transmisi seringkali dilakukan dengan memakai teknologi yang sanggup menanggulangi gangguan-gangguan dengan lebih baik pada pita frekuensi yang lebih banyak atau frekuensi yang lebih tinggi. Namun, pergulatan teknis dengan batas-batas jasmani ini memang bukan urusan yang gampang dan tidak jarang kali menjadi ladang yang subur untuk sekian banyak  penelitian dalam bidang telekomunikasi.

"Batas-batas jasmani ini pun yang membuat perubahan teknologi sebetulnya lebih lambat daripada yang dialami oleh semua pemakai software awam. Semoga bangsa Indonesia pun dapat secara perlahan ikut andil dan berkontribusi secara konkret dalam ombak pertumbuhan teknologi industri 4.0 di dunia," pungkas Ihan Martoyo.

Baca juga : Robot Ambil Alih 20 Juta Pekerjaan pada 2030


Tidak ada komentar:

Posting Komentar