Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Terbaru di Dunia - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI 2 | TECHNOLOGY

Breaking

Sabtu, 13 Juli 2019

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Terbaru di Dunia


Di belakang suntikan dana di Gojek-Grab oleh raksasa mobil

Perkembangan Teknologi | Fenomena bisnis transportasi online di Indonesia bak 'gula' untuk sejumlah perusahaan otomotif. Dalam sejumlah bulan terakhir tidak sedikit merek otomotif 'merapat' ke perusahaan transportasi berbasis digital yang dinilai paling menjanjikan.

Ada dua sasaran empuk untuk pabrikan otomotif, yakni Gojek dan Grab di tengah pertarungan bisnis otomotif di Indonesia yang semakin ketat.

Ekonom sekaligus Kepala Kajian Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Febrio Kacaribu melihat urusan tersebut adalahsesuatu yang lumrah terjadi dalam dunia bisnis.


Berdasarkan keterangan dari dia, pelaku industri otomotif telah menyadari bahwa dunia bakal berubah dalam 10 tahun ke depan, begitu pun pola bisnis otomotif. Saat ini digitalisasi sedang berkembang, sampai-sampai pabrikan otomotif mesti berkecimpung di dalamnya melewati perusahaan yang telah lebih dahulu menguasai di bidangnya.

Febrio mengatakan teknik mudah tetapi tidak murah ini yakni berperan sebagai investor ketimbang menyusun ekosistem sendiri. Dengan begitu praktis perusahaan otomotif dinilai hendak menikmati kesuksesan teknologi dari setiap perusahaan transportasi online.

"Sebenarnya menyaksikan peluang sebab ke depan transportasi bakal mengandalkan teknologi dan terdigitalisasi. Mungkin bukan secara langsung laksana masalah buatan mobilnya, namun investasi untuk sistem transportasi masa depan," kata Febrio melewati telepon, Rabu (10/7).

Investasi terbaru untuk perusahaan transportasi online ialah Mitsubishi Motor Corporations. Merek otomotif asal Jepang tersebut mengumumkan menanamkan investasi ke Gojek.

Chairman of Mitsubishi Motors Osamu Masuko menegaskan investasi ini membuka kesempatan sekian banyak  layanan mobilitas baru.


"Kami percaya bahwa akumulasi pengetahuan (dari kerja sama ini) terhadap layanan mobilitas baru yang menyebar dengan cepat di area Asia Tenggara dan kesempatan untuk menginjak pasar bakal berkontribusi pada perkembangan Pasar kami di Asia Tenggara pada masa depan," ujar Masuko.

Jauh sebelum Mitsubishi, grup otomotif Astra Internasional pun sudah menyuntikkan dana ke Gojek. Nilai investasi Astra yang dikucurkan bertahap menjangkau US$250 juta.

Di samping itu Grab sebagai pesaing Gojek pun sudah mengoleksi para investor kakap laksana Toyota Motor Corporation, Hyundai Motor Company, dan Yamaha Motor. Mereka menjadi unsur dari pendanaan seri H Grab. 

"Mereka hendak teknologinya. Jadi mereka hendak mengambil unsur dalam perkembangan. Jadi tidak boleh sampai mereka (perusahaan otomotif) ketinggalan," ucapnya.

Fabio menuliskan sikap pelaku industri otomotif bukan tidak percaya diri dengan teknologi, produk, maupun keterampilan bisnis mereka. Ini lebih untuk cari celah demi kelangsungan bisnis perusahaan.

Ekosistem Gojek dan Grab yang telah terbentuk sekitar ini yang dirasakan mampu menambah produktivitas perusahaan otomotif. Sebagai misal bisnis Gojek dan Grab terdapat hubungannya dengan produk kendaraan yang menjadi perangkat transportasi. Belum tergolong big data 'rahasia' yang dipunyai dua perusahaan transportasi online itu.

Ekosistem tersebut tak hanya diharapkan masyarakat tapi pun perusahaan otomotif.

Perusahaan otomotif sebetulnya mempunyai data menurut hasil riset mencakup pola transportasi, mobilitas insan di kota dan antar kota, sampai gaya hidup insan di masa depan. Namun ini lebih ke arah kemauan konsumen domestik dalam melakukan pembelian kendaraan.

Terlepas dari itu, data tersebut kemudian dapat membuat produsen otomotif mempersiapkan strategi bisnis, bahkan menyiapkan produk kendaraan yang tepat di masa depan yang dapat dikolaborasikan dengan perusahaan transportasi online.

"Itu yang butuh diketahui perusahaan transportasi jasmani seperti otomotif. Karena mereka mesti siap guna 10 tahun ke depan. Untuk riset mereka, sebab komoditas sangat mahal data. Kalau teknologi (otomotif) telah advanced dan menjadi modal mereka kemana-mana ketika ini," ucap Febrio.

Kepala Divisi Hubungan Investor Astra Internasional, Tira Ardianti, mengatakan keputusan perusahaan untuk menjadi di antara mereka yang menginvestasikan dana investasi di Gojek tidak masuk akal.

Di era digitalisasi seperti ketika ini menurut keterangan dari Tira masyarakat telah bicara tentang solusi mobilitas guna alat transportasi di masa depan. Tira menyakini tidak melulu Astra sebagai grup otomotif, melainkan pun perusahaan otomotif lain tentu sependapat.

"Banyak disruption di industri, sekian banyak  industri lah. Karena ini era digital. Semua makanya berbenah. Harus lihat tren. Dipelajari untuk evolusi seperti itu. Karena konsumen behavior berubah, bila tidak berubah kami tertinggal," ungkap Tira.

Tira menuliskan saat ini sebanyak perusahaan tentu tengah mengokohkan pondasi bisnisnya di era digital. Era digital menciptakan mereka mesti memahami lawan atau kawan, sampai-sampai tahu di mana lokasi yang tepat menempatkan modal.

"(Menjadi investor ke Gojek) yang kami kerjakan untuk persiapkan bagaimana bisnis di masa depan. Semua lagi cari bentuk. Karena ini yang terjadi laksana giant lab," ujar Tira.

"Kami inginkan pelajari model bisnis laksana apa ke depan. Semua masih berproses. Disruption bukan berarti ditinggal, namun kalau dapat melihat opportunity dan adaptasi, kalau dapat malah jadi pelopor inovasi memudahkan tidak sedikit orang," tutup Tira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar